EVALUASI
PROGRAM SUPERVISI PENDIDIKAN
DI
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
I.
Pendahuluan
A.
Latar
Belakang
Program Supervisi merupakan program
pengembangan guna memperbaiki hal yang kurang baik, dan mengembangkan sesuatu
yang sudah baik. Selain program supervisi, maka program tersebut perlu
dievaluasi guna program yang lebih baik dari sebelumnya. Karena tujuan evaluasi
adalah memperbaiki dan mengembangkan dari program selanjutnya.
Ilmu evaluasi sudah dikaji di
Tiongkok, yakni diawali pada tahun 2000 SM, digunakan mengevaluasi pegawai
kerajaan. Inggris juga dibentuk Tim Royal Commission Abad ke 19, bertugas
mengevaluasi layanan publik, namun hanya merupakan aktivitas administrasi dan
belum menjadi cabang ilmu pengetahuan mandiri. Amerika terdapat evaluasi
sekitar tahun 1843, Horace Mann memimpin suatu evaluasi program guna
mengevaluasi Lembaga Pendidikan, sampai di mana dalam mendidik para siswa. Winfred
Tyler Ralp, menciptakan educational evaluating tahun 1930, terkenal
dengan sebutan Bapak Evaluasi, ilmu evaluasi mulai berkembang berawal dari ilmu
pendidikan, kemudian di adopsi oleh bidang lainnya[1].
Evaluasi di Indonesia mulai terlihat
pada zaman Belanda dengan istilah connoisseurship, guna menilai amtenaar,
dan kondite tentara serta polisi penjajah. Dilanjutkan di era
selanjutnya pada lembaga Sekolah/ Madrasah sebagai evaluasi dengan bentuk penilik
Madrasah guna mengevaluasi Madrasah dalam bidang administrasi pembelajaran,
administrasi umum dan kesehatan siswa serta kebersihan lingkungan, kemudian
langkah perbaikan diadakan remedial dan dilakukan oleh kepala Madrasah[2].
Penilik terkenal dengan sebutan
pengawas, hal tersebutlah akhirnya memunculkan program supervisi. Dalam
perkembangannya, pengawas maupun evaluasi dilakukan secara tersendiri, kemudian
program supervisi demi kemajuan dan pembimbingan praktisi pendidikan maka
evaluasi menjadikan hal pilihan demi suksesnya tujuan tersebut.
II.
Supervisi Pendidikan
Supervisi jika dibahas secara umum merupakan bagian dari manajemen,
tepatnya pada fungsi controlling/pengawasan. Program manajemen
pendidikan agar dapat mengimplementasikan program dengan baik, maka
penyempurnaanya ada pengasan dan selanjutnya akan dievaluasi, hal ini
menjadikan semakin majunya lembaga pendidikan, terkenal dengan sebutan madrasah
atau sekolah.
Terry menyatakan bahwa pengawasan adalah mengukur kegiatan dengan
tujuan, menentukan sebab-sebab penyimpangan dan mengambil tindakan korektif.
Diterangkan juga bahwa pengawasan rata-rata digunakan untuk mengawasi keuangan,
namun Terry mengungkap bahwa pengawasan suatu kegiatan perlu membuat ukuran,
membandingkan antara kegiatan dengan program, memperbaiki penyimpangan, selalu
berhubungan dengan yang diawasi sebelum kegiatan selesai, dan menyesuaikan cara
mengawasi dengan objek sesuai kondisi dan hasil pengawsan[3].
Pengawasan efektif adalah membantu hubungan antara orang satu
dengan lainnya, antara guru dengan murid, antara guru dengan karyawan, serta
antara sesama dalam sebuah lembaga atau madrasah, guna menjalalankan program
agar dapat sesuai dengan realita, demi tujuan objektif. Bukan sebaliknya hanya
mencari kesalahan saja, dan memberi hukuman kepada yang bersalah, atau
sejenisnya.
Supervisi Pendidikan adalah sebuah aktivitas pembianaan terencana
guna membantu para guru, pegawai lembaga pendidikan, guna pekerjaan yang lebih
baik secara efektif.[4] Program Supervisi secara implisit[5], mengarahkan perhatian kepada dasar-dasar pendidikan dan cara-cara
belajar serta perkembangannya dalam pencapaian tujuan umum pendidikan. Program
tersebut berisi bukan hanya untuk memperbaiki mutu guru dalam mengajar, namun
juga untuk semua stake holder Lembaga Pendidikan Islam, termasuk
fasilitas yang menunjang kelancaran proses belajar mengajar.
Awalnya supervisi sebagai pengawasan berbentuk “Inspection,
snoopervision”, mencari kesalahan dan memata-matai. Sedangakan Supervisi
Moderen, adalah sebuah pelayanan untuk guru, agar dapat mengembangkan potensi,
belajar dan tetap konsisten dalam hal kegiatan positif, serta dinamis, agar
guru lebih confidence dalam kegiatan belajar mengajar[6].
Singkatnya, Supervisi Pendidikan Islam terbagi menjadi dua, yaitu
supervisi Manajemen Lembaga dan Supervisi Pengajaran, pembuatan program
Supervisi dapat dilakukan dengan dipetakan sebagai berikut[7]:
1.
Supervisi Akademis/Supervisi pengajaran
meliputi, Pengembangan Silabus/ Perumusan Indikator, Pengembangan RPP/Materi
Pembelajaran, Peningkatan Penguasaan Metode Pembelajaran, Peningkatan
Penguasaan Model Model Pembelajaran, Peningkatan Penguasaan Sistem Penilaian
Hasil Belajar, Pelaksanaan Pembelajaran dan BK/Pengembangan Diri.
2.
Supervisi Internal Manajerial/Manajemen,
Lembaga meliputi: Administrasi Tata Usaha, Kurikulum, Kesiswaan/Ekstra
Kurikuler, Sarana/Prasarana, Humas/Hubungan Industri, Perpustakaan, Koperasi Madrasah/Koperasi
Siswa dan, Lingkungan/ Budaya Madrasah.
Model, teknik dan pendekatan supervisi terbagai
beberapa hal: dilihat dari pengembangan model supervisi meliputi (konvensional,
Ilmiyah, Klinis, dan Artistik), kemudian dilihat dari pendekatannya meliputi
(Direktif, Non Direktif, dan Kolaboratif), jika dilihat dari tekniknya maka
akan mencakup (Individual, dan kelompok) [8].
III.
Program Supervisi di lembaga Pendidikan Islam.
A.
Pengertian
Program Supervisi
Sudjana,
mengartikan kata program yaitu, susunan kegitan terencana, memliki tujuan,
sasaran, isi dan jenis kegiatan, pelaksanaan kegiatan, proses kegiatan, waktu,
fasilitas, alat-alat, biaya, dan sumber-sumber pendukung lainnya[9].
Arikunto
menyatakan bahwa program merupakan sistem, sedangkan sistem adalah satu
kesatuan dari beberapa bagian, atau komponen saling berkaitan, bekerja sama
antara satu dengan lainnya, guna mencapai tujuan. Adapaun komponen program
terdiri dari unsur -unsur bangun, saling keterkaitan dan sebagai faktor penentu
keberhasilan program, dan komponen program disebut sub sistem[10].
Program
adalah rancangan kegiatan yang telah terkonsep tertulis maupun tidak tertulis,
guna melaksanakan sebuah kegiatan. Organisasi profit maupun non profit pasti mengkonsep
secara tertulis agar terdeteksi oleh anggota, agar dalam pelaksanaan dapat
berjalan dengan teratur. Sebagaimana diungkapkan Wirawan, bahwa program adalah
kegiatan atau aktifitas terancang guna melaksanakan kebijakan dan dilaksanakan
dengan waktu yang tidak terbatas[11].
Secara
operasional Syukur menegaskan bahwa program supervisi, secara konkrit melakukan
bimbingan dengan bentuk: 1) membantu guru dalam melihat tujuan-tujuan
pendidikan, 2) membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar siswa, 3)
membantu guru menggunakan sumber belajar, 4) membantu guru menggunakan metode
dan media pembelajaran, 5) membantu guru dalam hal menilai kemajuan
pesertadidik dan hasil pekerjaan guru, 6) membantu guru dalam memenuhi
kebutuhan belajar pesertadidik, 7) membina guru dalam hal prestasi mental,
kinerja dan moral, 8) membantu guru baru agar senang untuk meningkatkan
kualitas, 9) membantu guru agar mudah adaptasi dengan lingkungan sekolah maupun
masyarakat, 10) membantu guru dalam bidang totalitas kerja dan pengabdian di
madrasah[12].
Program
Supervisi sebaiknya, mempunyai beberapa hal diantaranya dapat di ilustrasikan
sebagai berikut:
Gambar 01
Penulis
mengambil simpulan dari beberapa pendapat bahwa program adalah seperangkat
rencana tertulis secara detail, mulai dari nama kegiatan, tempat, waktu, dan
dilengkapi dengan peralatan software maupun hardware, guna melaksanakan
kegiatan secara teratur. Komponen program supervisi meliputi: Akademik, dan
Administrasi sebagaimana telah diterangkan pada pengertian. Adapun ilustrasi
program Supervisi sebagaiaman berikut:
Tabel 1 Komponen
Program Supervisi
|
Program
|
Komponen
|
Sub
Komponen
|
Indikator
|
Alat
|
|
Supervisi
|
Akademik
|
Pengembangan Silabus/ Perumusan Indikator,
|
Mencantumkan karakter
|
Checklist, instrument
|
|
Pengembangan RPP/ Materi Pembelajaran,
|
Proses Eksplorasi,
|
Checklist. Instrument
|
||
|
Peningkatan Penguasaan Metode Pembelajaran,
|
Ceramah,
|
Interview, observation
|
||
|
Peningkatan Penguasaan Strategi Pembelajaran,
|
Variatif dalam penggunaan strategi Pembelajaran, (Power of
two, Discribing Picture, every one is teacher here/ Kulluna Mudarrisun, debat
active dll)
|
Interview, observation
|
||
|
Peningkatan Penguasaan Sistem Penilaian
Hasil Belajar,
|
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Pelaksanaan Pembelajaran dan,
BK/Pengembangan Diri
|
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Administrasi/ manajerial
|
Program Kepala Madrasah
|
Supervisi akademik, kepemimpinan demokratis, kedisiplinan,
penyuluhan ustadz, workshop, evaluasi program
|
Interview, observation, checklist
|
|
|
Program Jurusan
|
Kegiatan pengembangan pesertadidik, evaluasi program jurusan
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Program komite madrasah
|
Musyawarah tahunan, identivikasi kemajuan
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Program Humas
|
Mengadakan ivent internal, eksternal dan kerjasama, evaluasi
program.
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Program Kurikulum
|
Prota, promes, penjadwalan, evaluasi kurikulum
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Program Sarana Prasarana
|
Pengadaan barang, fasilitasi sarana pendidikan, evaluasi program
sarana prasarana, perpustakaan, media belajar pesertadidik, dan guru.
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Program Personalia/ Pengembangan Sumber Daya karyawan, dan staff
|
Workshop, pelatihan guru, dan pelatihan tenaga kependidikan dan
staff
|
Interview, observation, checklist
|
||
|
Program sirkulasi keuangan
|
Rencana penganggaran, implementasi, evaluasi sirkulasi keuangan.
|
Interview, observation, checklist
|
Program
d iatas dapat diidentifikasi, beberapa item, komponen, dan indikator program.
Arikunto memaparkan komponen program adalah unsur-unsur yang membangun sebuah
program, sebagai faktor penentu keberhasilan program, maka ada beberapa Komponen,
Sub Komponen, dan indikator program, sebagaimana telah terpaparkan di atas.
B.
Kegunaan
Program Supervisi Pendidikan Islam.
Program
Supervisi memberikan petunjuk perbaikan terhadap penyimpangan dalam pengelolaan
Sekolah/Madrasah, meliputi: 1. Proses dan hasil pelaksanaan kurikulum, kegiatan
Madrasah dibidangpengelolaan gedung dan bangunan halaman atau dengan kata lain
Pengelolaan Hardware, kemudian 2. pengembangan dibidang personal Madrasah,
termasuk guru dan kepala madrasah, yang mencakup kedisiplinan, sikap,
tingkahlaku, pembinaan karier, peningkatan kemampuan ketrampilan dan
pengetahuan, dan 3. Bidang tata usaha, keuangan dan usrusan kepegawaian, serta
4. Hubungan Madrasah dengan badan pembantu penyelenggara pendidikan dan
maysarakat umum[14].
Oliva,
mengambil dari pendapat Burton, Barr, dan Leo, bahwa tugas sekaligus kegunaan
supervisi, diantaranya: 1) Improvement of the teaching, 2) Improvement
of teacher in servise, 3) The Selection and organization of subject
matter, 4) testing and measuring, 5) the rating of teacher,
6) Developing Curriculum, 7) Organizing For Instruction, 8) Providing
Staff, 9) Providing Facilities, 10) Providing Materials, 11) Arranging
For In Service Education, 12) Orienting Staff Members, 13) Relating
Special Pupil Service, 14) Developing Public Relation, 15) Evaluating
Instruction[15].
Penulis
setuju dengan ungkapan Oliva tersebut bahwa, kegunaan supervisi adalah untuk
mengembangkan mengembangkan Madrasah, perlu memperhatikan dua hal terkait,
tentang pengembangan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar,(Manajemen
kelas, dan perangkat pembelajaran) dan manajerial lembaga pendidikan (berkenaan
dengan kepemimpinan Madrasah).
C.
Langkah
Membuat Program Supervisi
Program Supervisi
perlu dibuat dengan baik, karena pelaksanaan sebuah kegiatan tanpa adanya
konsep program tertulis, dipastikan tidak akan mendapatkan hasil baik,
sebaik-baik apapun tidak akan dapat dievaluasi serta tidak dapat dikembangkan,
juga tidak akan dapat menemukan strategi baru hususnya program supervisi.
Adapun langkah
membuat program supervisi, hendaknya mengkonsep sebagaiamana berikut:
1.
Nama
madrasah yang akan disupervisi
2.
Lokasi
madrasah
3.
Waktu
Pelaksanaan Supervisi
4.
Supervisi
Akademik, meliputi:
a.
Perencanaan
Pengajaran (Program Tahunan, Program Semester, Silabus, KKM, RPP, dan Buku Nilai)
b.
Pelaksanaan
Pembelajaran
Supervisi pelaksanaan pembelajaran sebagaimana kutipan dari program
supervisi SMA N 1 Suralaga Jln. Geres – Suralaga Kecamatan Suralaga Kab. Lombok
Timur, oktober 2009, seperti di bawah ini[16]:
Hal-hal yang
perlu diperhatikan pada tahap Pra-observasi, Observasi, dan Pasca-obsevasi.
1)
Pra-observasi
( Pertemuan awal)
Pada pertemuan awal perlu
memperhatikan: a) Menciptakan suasana akrab dengan guru; b) Membahas persiapan yang dibuat
oleh guru dan membuat kesepakatan mengenai aspek yang menjadi fokus pengamatan; c) Menyepakati
instrumen observasi yang akan digunakan.
2) Observasi ( Pengamatan pembelajaran)
Pengamatan pembelajaran memperhatikan beberapa
hal, yaitu; a) Pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati; b) Menggunakan
instrumen observasi; c) Di samping instrumen perlu dibuat catatan (fieldnotes);
d) Catatan observasi meliputi perilaku guru dan siswa; e) Tidak mengganggu
proses pembelajaran.
3) Pasca-observasi (Pertemuan balikan).
Pertemuan balikan, yaitu setelah melakukan observasi, biasanya dilakukan;
a) Dilaksanakan setelah observasi; b) Menanyakan kepada guru mengenai proses
pembelajaran yang baru berlangsung; c) Menunjukkan data hasil observasi (instrumen
dan catatan), beri kesempatan guru mencermati dan menganalisisnya; d) Diskusikan
secara terbuka hasil observasi, terutama pada aspek yang telah disepakati
(kontrak) – Berikan penguatan terhadap penampilan guru. Hindari kesan
menyalahkan. Usahakan guru menemukan sendiri kekurangannya; e) Berikan dorongan
moral bahwa guru mampu memperbaiki kekurangannya; f) Tentukan bersama rencana pembelajaran dan
supervisi berikutnya.
Observasi dalam supervisi yang dilakukan oleh Piet adalah sebagai
berikut:
Tahapan Kegiatan Observasi
Pembelajaran meliputi
1.
Kesiapan alat bantu
dan media pembelajaran (Sumber Belajar). Guru menyiapkan sumber belajar yang
diperlukan secara lengkap.
2. Motivasi, artinya membangkitkan kemauan belajar siswa, agar siswa merasa tertarik ingin tahu, apa
yang akan dipelajarinya. Hal ini dapat diamati, misalnya ketika guru:
a. Mengawali pelajaran dengan ceria.
b. Menunjukkan kegunaan Kompetensi Dasar (KD) yang akan dibahas dalam kehidupan
sehari-hari atau hubungannya
dengan mata pelajaran yang lain,
c. Memberi permasalahan yang menantang sehingga membangkitkan keinginan siswa
untuk memecahkannya.
3.
Apersepsi. (Pengetahuan prasyarat yang berkaitan dengan materi yang
akan dibahas). Ini dapat dilihat apakah guru mengajukan pertanyaan mengenai
materi pelajaran yang lalu yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas. Hal tersebut harus dilakukan dengan baik.
4.
Kejelasan Kompetensi Dasar/Indikator. Guru menyampaikan baik lisan maupun tertulis KD/Indikator yang
harus dikuasai siswa setelah selesai pembelajaran.
5.
Kesiapan bahan ajar (Sumber
Belajar). Guru telah menyiapkan bahan ajar, baik berupa buku teks, modul, kaset/cd
pembelajaran, dsb.
c.
Kegiatan
Pokok
Kegiatan pokok meliputi: 1) Penguasaan Materi, Guru tampak mantap
dan percaya diri, tidak ragu-ragu dalam
menyajikan pembelajaran, serta pertanyaan-pertanyaan siswa dijawab dengan
tepat. Jika penyaji materi berlatar belakang pendidikan sama dengan guru yang
disupervisi pengamatan dapat lebih teliti dengan memperhatikan kebenaran
konsep-konsep yang disampaikan oleh guru. 2) Pengelolaan kelas, Siswa bisa berinteraksi dengan guru, antar
teman, bahan ajar, dan alat-alat pembelajaran (Sumber Belajar). 3) Pengelolaan waktu, Mengidentifikasi
tentang Penggunaan waktu yang tersedia dikelola dengan baik dalam pembelajaran,
dan lebih banyak digunakan untuk kegiatan siswa dibandingkan dengan kegiatan
guru.4) Metode/ pendekatan yang
bervariasi, Guru kaya akan metode dan strategi pembelajaran, dan diterapkan
sesuai kondisi dan situasi, yang sedang berlangsung. 5) Penggunaan alat bantu/
media pembelajaran, Menggunakan media clasikal sampai multimedia. 6) Peran guru
sebagai fasilitator, Guru bukan hanya mengajar namun bisa memposisikan diri
sebagai fasilitator, contoh dalam diskusi, pesertadidik dibuat diskusi panel,
jika mengalami kesulitan guru akan melengkapi kekurangan, mulai pemecahan
masalah dalam diskusi, sampai ke solusi, kongret dalam pencarian konsep teori
dalam buku.7) Teknik bertanya; dengan bentuk: a) Mengajukan pertanyaan
kepada semua siswa b) Memberi waktu
tunggu bagi siswa untuk berpikir, c) Menghindari jawaban serentak dengan menunjuk salah
seorang siswa untuk menjawab, Sikap guru dalam menanggapi pertanyaan
pesertadidik Dalam menanggapi pertanyaan/ jawaban siswa, sikap guru[18]: a) Sabar mendengarkan sampai selesai (tidak memotong pertanyaan/ jawaban siswa);
b) Tidak mencemooh walaupun pertanyaan/ jawaban siswa kurang tepat; c) Tidak
langsung menyalahkan pendapat siswa; d) memberi penghargaan pada pertanyaan
yang berbobot/ jawaban yang tepat, 8) Penggunaan papan tulis, Penggunaan papan tulis dengan
pembagian sebagai berikut: a) untuk menuliskan hal-hal yang segera dihapus, dan yang
tidak dihapus sampai akhir pembelajaran, b) untuk menulis pokok-pokok penting
saja, dan teknik menulis tidak membelakangi siswa.
Kemudian dilanjutkan 9) Interaksi guru –
peserta didik. Guru sebagai teman di dalam kelas, jadi siswa akan belajar
dengan enjoy dan kondusif. 10) Interaksi antar peserta didik, Hubungan guru dan siswa atau hubungan antar
siswa dalam pembelajaran tampak akrab dan saling menghormati. 11) Aktivitas peserta
didik a – g Semua kegiatan dapat dilakukan
dengan baik, 12) Sikap dan minat peserta didik dalam pembelajaran.
Sikap tersebut adalah; a) jumlah siswa yang
hadir > 95 % ; b) tampak sebagian besar ( > 75%) siswa
membawa buku pelajaran yang relevan; c) sebagian besar ( > 75%) siswa
tampak mencatat.
Pencapaian KD/Indikator,
Pertanyaan-pertanyaan guru yang berhubungan
dengan tujuan pembelajaran/indikator/KD, baik yang disampaikan selama pembelajaran maupun di akhir
pembelajaran, sebagian besar ( > 75%) dapat dijawab oleh siswa dengan
baik.
Penutup/Pasca Kegiatan Guru dapat menyimpulkan
hasil kegiatan belajar mengajar dengan diakhiri penutup. Lalu membuat rangkuman-rangkuman, pemberian
tugas untuk pertemuan berikutnya, Guru memberikan tugas (PR/baca buku/mencari informasi,
dsb) untuk pertemuan berikutnya.
Supervisi
manajerial meliputi dari kepala madrasah, sampai ke tenaga kependidikan, redaksi
lain bahwa Supervisi Internal Manajerial/Manajemen, Lembaga meliputi: Administrasi
Tata Usaha, Kurikulum, Kesiswaan/Ekstra Kurikuler, Sarana/Prasarana, Humas/Hubungan
Industri, Perpustakaan, Koperasi Madrasah/ Koperasi Siswa dan, Lingkungan/Budaya
Madrasah.
Supervisi
manajemen atau biasa dikenal dengan Supervisi administrasi, meliputi
administrasi kepala madrasah, administrasi keuangan, administrasi ketenagaan,
administrasi perlengkapan pendidikan, administrasi keuangan, administrasi
pelaksanaan ujian akhir, administrasi penerimaan peserta didik baru,
administrasi hubungan madrasah dengan masyarakat, administrasi kelembagaan,
administrasi KKG, laboratorium, perpustakaan, surat menyurat, dan perkantoran.[20]
Langkah ini
menjadi pijakan bagi para pengawas Madrasah, atau khususnya bagi yayasan, atau
kepala madrasah, guna pengembangan lembaganya, langkah tersebut adalah:
1.
Tahap
persiapan/ perencanaan.
Tahap perencanaan meliputi beberapa
hal diantaranya penyususanan program supervisi berdasarkan jenis kegiatan, dan
standar program kegiatan. Dalam organiasi Supervisi, juga terdapat mekanisme
pelaksanaan, pelaporan dan tindak lanjut, yaitu: Pertama, Menyiapkan
instrumen atau penjelasan teknis Supervisi dan kebijakan terbaru, tentang
petunjuk kegiatan pendidikan di Madrasah. Kedua, Menyiapkan peralatan,
media atau bahan lain, seperti buku, pedoman, surat tugas dsb.
2.
Pelaksnaan
Supervisi
Melaksanakan Supervisi seorang
supervisor, sebaiknya berusaha menggunakan beberapa peralatan dan improvisasi
sebagai berikut; a) Instrumen agar terarah; b) Minimal dilakukan awal dan akhir
semester; c) Mampu mengembangkan instrumen; d) Tidak menggurui, tetapi
mengugunakan siasat problem solving; e) Siapapun yang
disupervisi pada madrasah bukan bawahan melainkan mitra kerja; f) Menguasai
materi yang akan disupervisi; g) Mampu merumuskan tujuan; h) Menguasai teknis
edukatif dan administratif dalam Supervisi; i) Dilakukan berkesinambungan; j) Menjalin
kerjasama dengan semua pihak; k) Pelaksanaan Supervisi melibatkan pimpinan
madrasah diantaranya (Ketua kelompok, Kepala seksi/kepala bidang Mapendais, dan
tipe organiasasi, dan Kepala Madrasah/wakil kepala Madarasah); l) Dokumentasi
Hasil supervisi, dengan bentuk pelaporan dengan berkriteria (Dapat dibaca
tentang keterlaksanaan program, Kemantapan instrumen, Kejelasan supervisi, Hasil
supervisi dengan memaparkan hambatan dan rintangan); m) Tindak lanjut, yaitu (Merencanakan
dan melaksanakan langkah pembinaan atau program pembinaan, Program supervisi
selanjutnya, Dokumentasi hasil supervisi secara baik).
Setelah mengetahui langkah pembuatan program supervisi, maka
pembuatan program supervisi sebagaimana dapat mencermati gambar 01, yang telah
paparkan di atas.
IV.
Evaluasi Program Supervisi di Lembaga Pendidikan Islam.
A.
Pengertian
Evaluasi Program.
Madrasah
membutuhkan evaluasi demi perbaikan program, khususnya pada program supervisi. Secara
organisatoris jarang sekali dilakukan hal tersebut, karena beberapa hal,
diantaranya kurang memahami adanya pengawas, dan kurangnya memahami ilmu supervisi,
maupun evaluasi, maka pemabahasan ini akan berguna bagi praktisi pendidikan,
guna perbaikan program.
Wirawan
berpendapat, evaluasi program adalah kegiatan atau aktivitas terencana dan
terkonsep serta sistematis, guna kebijakan kedepan dan dilaksanakan dengan
waktu yang tak terbatas. Evaluasi program terbagi menjadi tiga, yaitu evaluasi
proses[22], Evaluasi manfaat [23] “Outcame Evaluation”dan evaluasi akibat[24] (Impact Evaluation) [25].
Evaluasi
secara pemahaman singkat guna mencocokkan dari program dan pelaksanaan, jika
program tidak sesuai dengan pelaksanaan maka perlu diperbaiki, namun jika sudah
sesuai antara rencana dan pelaksanaa, maka diperlukan pengembangan selanjutnya.
Adapun menurut Rossi dengan bukunya Evaluation A Systematic Approach, menyatakan
“Evaluation Research is the systematic application of social research
procedures for social intervention program”[26]. Rossi menjelaskan bahwa evaluasi adalah sebuah sistem aplikasi sosial
yang digunakan untuk intervensi pada sebuah program kegiatan. Jika tidak
melakukan intervensi, maka belum dinamakan evaluasi, evaluasi berguna untuk
mencocokkan program dengan pelaksanaan, kemudian berfungsi untuk kebijakan
pembuatan selanjutnya.
Islam
telah mengajarkan bahwa perlunya mengevaluasi demi hari esok, seperti terdapat
pada Surat Al-Khasr ayat 18:
يا أَيُّهَا الَّذينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ
إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang
yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah merenungkan setiap diri/
melihat kembali, sesuatu perbuatan lampau untuk hari esok. Dan takwalah kepada
Allah! Sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui sesuatu yang kamu kerjakan[27].
Kata
Merenung yang ada dalam kandungan surat Al-Khasr ayat 18 tersebut dimaknai
sebagai evaluasi, karena perenungan tersebut menunjukkan menilai setelah
pelaksanaan kegiatan, guna hari esok agar lebih baik dalam bertindak, maupun
berfikir lanjut. Kemudian dialokasikan pada lembaga pendidikan agar selalu
merenung setelah pelaksanaan kegiatan, termasuk kegiatan program supervis perlu
adanya evaluasi, agar proses pembimbingan lebih bermakna dan terlihat maju
dalam setiap periode.
Sudjana
mengambil pendapatnya dari Steele: 1977: 21, bahwa evaluasi program adalah
proses penetapan secara sistematis tentang nilai, tujuan, efektivitas, atau
kecocokan sesuatu dengan kriteria dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.[28] Maka dapat diambil benang merah, bahwa evaluasi program adalah
mencocokkan dari konsep program dengan pelaksanaan program, agar setelah
dicocokkan terlihat program tersebut terlaksana, atau tidak terlaksana, jika
terlaksana semua maka perlu pengembangan, dan jika ada beberapa hal tidak terlaksana,
maka tugas evaluator adalah mencari penghambat, dan mencari solusi agar program
kedepan dapat terlaksana dengan baik.
Evaluasi
program bukan murni penelitian dan bukan murni evaluasi, namun gabungan
diantara keduanya, karena penlitian evaluative selain menemukan sesuatu yang
baru, juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan instansi pemerintah, dan
penelitian program dilakukan sebelum penyusunan program, selama program
dilaksanakan. Sedangkan evaluasi program dilakukan hanya untuk menghasilkan
data sebagai masukan guna pengambilan keputusan. Evaluasi program berpusat
kepada manusia (people centered) dan yang menjadi koresponden adalah
orang-orang yang menjalankan program dan pengelola.[29]
Evaluasi
adalah keterampilan utama supervisi Madrasah. Apapun kondisinya Supervisor
terlibat empat kegiatan, yaitu: 1) programs, melihat kembali desain
program, konsep dan struktur, serta sasaran perencanaan, 2) processes,
mengkaji teknik operasional dengan memprediksi keefektifan dan efisiensi
organisasi, 3) products, meresum kinerja program madrasah dalam
bentuk tujuan, harapan dan kontribusi, 4) personnel, analisis
kontribusi tiap guru, karyawan dan kepala madrasah dalam implementasi
perencanaan program madrasah.
Evaluasi
program dalam pengajaran juga disebutkan, yaitu serangkaian proses tindakan dan
pemberian estimasi terhadap pelaksanaan pengajaran untuk menentukan keefektifan
dan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Tujuan
proses evaluasi, sebagaiaman berikut: 1. Specifying criteria (menetapkan
kriteria), 2. Instrumentation (pembuatan instrumen), 3. Data gathering
(pengumpulan data), 4. Analisis data, 5. Interpretation of finding
(interpretasi temuan), 6. Valuing (penilaian), decision making(pengambilan
keputusan)
[30].
Lembaga
pendidikan islam, secara konsep Evaluasi Program sebenarnya sudah terlaksana,
walau terlihat ketika ada akreditasi lembaga, namun pada realita prosedur
mengevaluasi tidak pernah dipelajari secara detail, dan pengertian tersebut
bertujuan sebuah evaluasi program supervisi perlu dilakukan dengan cara
mengetahui isi program supervisi, dan jika perlu mengetahui dengan details
draft-draft pada Program Supervisi.
Ilustrasi perbedaan antara evaluasi dan penelitian.
Gambar, 03.
![]() |
Ilustrasi
tersebut menerangkan bahwa penelitian program supervisi menghasilkan
identifikasi permasalahan, dan memberikan saran untuk program selanjutnya,
namun evaluasi program supervisi, menghasilkan identifikasi permasalahan dan
memberikan solusi dengan memberikan rekomendasi.
B.
Tujuan
Evaluasi Program Supervisi
Unsur penting evaluasi adalah tujuan
yang terbagi dua, yaitu tujuan umum biasa disebut dengan Goals, dan
tujuan khusus, disebut dengan Objectivities, maka tujuan evaluasi
program adalah mempunyai dua tujuan, pertama tujuan umum terdapat pada konsep
supervisi secara umum terdapat pada program, dan tujuan khususnya adalah untuk
konsep khusus, guna memberikan masukan untuk program Supervisi selanjutnya.
Patton menyatakan bahwa pengamatan
dengan tujuan mengevaluasi program, menurut patton ada beberapa keuntungan[31]: (a) Pengamatan secara langsung, evaluator/ peneliti dapat
mengetahui secara mendalam tentang konteks pada aktifitas program, (b) Peneliti
dapat merasakan bahwa dirinya melakukan kegiatan tersebut, kegiatan ini
dilakukan pendekatan berorientasi penemuan, dan (c) Pengamatan mempunyai
kekuatan bahwa peneliti mempunyai peluang tentang kejadian secara rutin.
Evaluasi secara umum mempunyai
beberapa tujuan sebagaimana telah dibahas dalam bukunya Wirawan; 1. Mengukur
pengaruh program terhadap masyarakat, 2 Mengidentifikasi dan menilai kecocokan
antara program dan pelaksanaannya, 3. Mengukur standar pelaksanaan program, 4. Mengidentifikasi
program terlaksana, maupun yang tidak terlaksana, 5. Pengembangan staf program,
6. Memenuhi ketentuan undang-undang, 7. Akreditasi program, 8. Mengukur efektif
dan efiesiennya program, 9. Mengambil keputusan mengenahi program, 10. Akuntabilitas,
mengenahi pertanggungjawaban, 11. Memberikan feed back kepada pimpinan
dan staf program, 12. Memperkuat posisi politik, jika evaluasi berhasil dengan
nilai positif, kebijakan, program atau proyek pastinya akan mendapatkan
dukungan dari para pengambil keputusan, 13. Mengembangkan teori ilmu evaluasi
atau riset evaluasi, karena awal adanya evaluasi tidak menggunakan landasan
teori, karena para pimpinan mempunyai pemikiran suatu kegiatan sangat
memerlukan evaluasi[32].
![]() |
Gambar
04
Tentang
ilustrasi evaluasi program
Wirawan mengutip pendapat Possavac dan Carey, bahwa manfaat
evaluasi adalah sebagai berikut:
1.
Evaluasi
Program memperkuat rencana untuk layanan penyajiannya untuk memperbaiki manfaat
(out came) program dan efisiensi program, dan evaluasi ini dapat
dinamakan dengan evaluasi formatif.
2.
Evaluasi
dapat didesain untuk pengambilan keputusan program selanjutnya, setelah
evaluasi dilakukan apakah program harus dimulai, diteruskan atau dipilih dari
dua alternative program yang ada. Dan hal ini disebut dengan evaluasi Sumatif.
C.
Fungsi
Evaluasi
Suhertian berpendapat
bahwa fungsi evaluasi terbagi menjadi 3, diantaranya: Fungsi Formatif
(Merupakan Evaluasi yang memberikan balikan kepada guru, sehingga dapat
memperbaiki hasil mengajarnya), Sumatif (bahwa evaluasi hasil belajar yang
dilakukan pada akhir program pembelajaran, yang berbentuk catur wulan, atau semester)
dan Diagnosis (sedangkan diagnosis ini evaluasi yang mengungkap
kesulitan-kesulitan belajar di kelas, jika guru meghadapi peserta didik yang mengalami
kesulitan belajar, maka ada usaha untuk remedial, maka perlu seorang konsultan,
atau konsultan tersebut maka sebagai supervisor)[33].
D.
Manfaat
Evaluasi Program Supervisi
Organisasi
lembaga profit dan non provit lembaga pendidikan, khususnya madrasah perlu
mengetahui manfaat evaluasi program. Arikunto mengatakan bahwa evaluasi program
tidak ada perbedaan dengan supervisi, namun bedanya supervisi adalah bertujuan
membina agar lebih maju dan berkembang maka perbedaannya yaitu pada awal
supervisi perlu mengumpulkan data-data guna direduksi, kemudian dilakukan
pembinaan, setelah melakukan pembinaan maka baru dilakukan evaluasi program
supervisi, dengan bertumpukan pada supervisi kegiatan pembelajaran, supervisi
kelas, dan supervisi madrasah[34].
Penulis
mengilustrasikan kegiatan tersebut dengan:
Gambar 05.
Penjabaran dari
gambar 05 ilustrasi terebut, bahwa evaluator mengidentifikasi permasalahan,
mengumpulkan data, kemudian dilakukan pembinaan, membuat program supervisi,
dilanjutkan dengan evaluasi program supervisi. Teknik tersebut juga tidak ada
perbedaannya dengan langkah mensupervisi, maka ketika pelaksanaan evaluasi
tersebut dilakukan akan timbul rekomendasi yang berisikan tentang kelebihan dan
kekurangan, akhirnya pembimbingan lebih lanjut.
E.
Model
Evaluasi[35]
Pemaparan model
evaluasi ini sebagai pengenalan bahwa evaluasi terdiri dari beberapa macam,
agar nantinya para praktisi pendidikan di madrasah dapat memilih model
tersebut, karena model evaluasi ada yang memerlukan biaya banyak dan juga ada
model sederhana, diantaranya sebagaimana berikut:
a.
Evaluasi
Berbasis Tujuan
“Goal based evaluation model” Model
evaluasi berdasarkan tujuan umum, “Objective Oriented Evaluation”
evaluasi berpemahaman objek atau tujuan khusus dan “Objective
Referenced evaluation Model” Model Evaluasi dengan kriteria tertentu, “Objective
Oriented Approach”, serta Behavioral Objective Approach, kesemua itu
adalah model evaluasi tertua yang dikembangkan oleh Ralph W Tyler, ia
mendefinisikan evaluasi adalah sebuah “Process of determining to what extent
the educational objective are actually being realized”. [36] Model tersebut adalah model
evaluasi berdasarakan tujuan umum maupun khusus dalam institusi tertentu.
Adapaun langkah-langkah model evaluasi tersebut sebagaimana berikut:
1)
Mengidentifikasi
tujuan
2)
Merumuskan
tujuan menjadi indikator-indikator
3)
Mengembangkan
metode dan instrumen untuk menjaring data
b.
Evaluasi
Bebas Tujuan (Goal Free Evaluation Model).
Evaluasi ini dikembangkan oleh Scriven[37]. Evaluasi ini merupakan evaluasi mengenai pengaruh sesungguhnya,
dan evaluator tidak mengetahui program, bertujuan pencapaian objektif.
Evaluator tidak melihat program melainkan melihat pengaruh positif, negatif,
atau sampingan positif [38].
c.
Evaluasi
Formatif dan Sumatif
Model ini ditemukan oleh Scriven, praktisi pendidikan sudah pasti
mengenal apa yang disebut dengan formatif dan Sumatif. Evaluasi Formatif lebih
diarahkan pada evaluasi proses, ditujukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan
program. Evaluasi Sumatif lebih mengarah pada evaluasi hasil, menilai
keefektifan dan efiseiensi program, menentukan program kelanjutan atau
pemberhentian program[39].
Tabel
Perbedaan Antara Evaluasi Formatif dan Sumatif
|
|
Evaluasi
Formatif
|
Evaluasi
Sumatif
|
|
1.
Tujuan
2.
Pengguna
3.
Pelaksana
4.
Pengumpulan
Data
5.
Sampel
6.
Pertanyaan
|
Menyempurnakan
Program Pimpinan Administrasi, dan Staf.
Evaluator
Internal
Multi
metode, informasi
Purposif
atau probabilitas
Kegiatan
mana yang berjalan?
Apa
yang harus diperbaiki?
Bagaimana
perbaikannya?
|
Menilai
Kelayakan Program
Pengguna
atau pemberi dana
Evaluator
Ekternal
Intstrumen
baku (Valid dan Reliabel)
Probabilitas.
Apa
hasilnya?
Dalam
Situasi bagaiaman?
Membutuhkan,
biaya, sarana dan prasarana dan latihan apa?
|
Gambar 06.
d.
Evaluasi
Responsif
Tahun 1975 mulai dikembangkan oleh Robert Stake[40], mempunyai tiga kriteria: (1) condong berorientasi pada aktifitas
program dibanding tujuan program, (2) merespon kepada persyaratan kebutuhan
informasi dari audiens, dan (3) perspektif nilai-nilai yang berbeda dari
orang-orang dilayani dilaporkan dalam kesuksesan dan kegagalan program. Adapun
langkah-langkahnya: pertama, Evaluator mengidentifikasi jenis dan jumlah
setiap pemangku kepentingan (respondent); kedua, melakukan wawancara
dengan pemangku kepentingan; ketiga, menyusun proposal evaluasi; keempat,
melakukan evaluasi; kelima, membahas hasil evaluasi; keenam, Pemanfaatan
hasil evaluasi[41].
e.
Evaluasi
Context, Input, Process, dan Product
(CIPP).
Dikembangkan oleh Stufflebeam tahun 1966[42], CIPP kepanjangan dari, Context, Input, Process dan Product.
Komponen yang di evaluasi adalah: Evaluasi Konteks, Evaluasi Input/ Masukan,
Evaluasi Proses, dan Evaluasi Produk.
f.
Evaluasi
Adversari
Evaluasi ini menyerupai proses pengadilan atau proses yudisial,
dimulai tahun 1965 Egon E Guba, menyatakan bahwa pendidikan bisa menggunakan
selayaknya pengadilan, T R. Owen pertamakali melakukan evaluasi di bidang
pendidikan, kemudian banyak tokoh pendidikan yang mengikuti hal tersebut,
seperti Blain R. Worthen dan W Todd Roger pada tahun 1980, selain itu juga
digunakan mengevaluasi program militer oleh Richard L. Miller & Jeanne
Butler, 2008. Tujuan utama evaluasi Adversari adalah mengurangi bias dengan membentuk
dua evaluator, intinya membentuk dua atau lebih evaluator yang independen.
Adapun langkahnya sebagai berikut:1) Membentuk dua atau lebih evaluator yang
independen. 2) Melakukan evaluasi 3) Merumuskan evaluasi, 4) Merumuskan hasil
evaluasi, 5) Dengar pendapat, 6) Keputusan mengenahi program. Evaluasi tersebut
membutuhkan waktu dan biaya mahal karena ada dua proses evaluasi[43].
g.
Evaluasi
Ketimpangan
Malcolm
M. Provus, sebagai tokoh jenis evaluasi ini, 1971 dengan bukunya “Discrepancy
Evaluation”, evaluasi ini mirip dengan evaluasi Goal Based Evaluation
Model, yang dikemukakan oleh Ralp Tyler, adapun langkahnya[44]:1) mengembangkan suatu desain dan standar-standar yang
menspesifikasikan karakteristik-karakteristik implementasi ideal dari
evalualand (objek evaluasi): kebijakan, program atau proyek. 2) merencanakan
evaluasi menggunakan model diskrepansi, menentukan informasi yang diperlukan
untuk membandingkan implementasi.
h.
Evaluasi
Sistem Analisis
Model ini di tokohi oleh Karl Ludwig
von Bertalanfy 1951,[45] seorang Biolog Jerman, Ia menformulasikan teori sistemnya dari
perspektif biologi. Karl Ludwig menciptakan lima jenis evaluasi yang diterapkan
pada Program Keluarga Berencana, prosesnya sebagai berikut:
1)
Evaluasi
masukan (Input Evaluastion). Masukan diperoleh dari lingkungan eksternal
dari Program.
2)
Evaluasi
Proses, fokus pada pelaksanaan program.
3)
Evaluasi
Keluaran, (Output Evaluation), hasil dari pelaksanaan program
4)
Evaluasi
Akibat, (Outcame Evaluation), yang dimaksudkan dalam evaluasi ini adalah
sudah ada bentuk perubahan, atau tidak adanya perubahan pada sesuatu yang
dievaluasi.
5)
Evaluasi
Pengaruh (impact evaluation), evaluasi ini fokus pada penilaian terhadap
pengaruh program, pengaruh program mengakibatkan dampak kecil atau besar.
Evaluasi ini juga ada kesamaan
dengan evaluasi program yang bernama CIPP (Context, Input, Process dan Product).
i.
Teori
Driven Evaluation Model
Teori Driven Evaluation Model
memberikan beberapa langkah, 1) Mempelajari Program, 2) Menyusun Teori Program,
3) Menyusun desain evaluasi, 4) pelaksanaan evaluasi, 5) hasil evaluasi, 6)
pemanfaatan evaluasi [46].
j.
Model
Evaluasi Semu
Evaluasi ini sudah sering
mendapatkan citra negative, yang berasal dari berbagai aspek proses
evaluasi yang tidak memenuhi standar profesi, di sampaing hasilnya tidak
objektif dan saintifik, juga banyak manipulasi. Evaluasi ini termotivasi oleh
tujuan politik, dengan kata lain politik memegang kekuasaan dalam organisasi
atau lembaga, akhirnya terjadi evaluasi yang menutupi kelemahan dan informasi
negative demi kesuksesan organiasi[47]. Daniel L. Stufflebeam 1999a, berpendapat bahwa evaluasi ini
terbagi dua hal: studi hubungan masyarakat (public relation studies),
dan studi kontrol oleh politik (Politically controlled studies). Adapun, public relation studies,
dimulai dengan tujuan memakai data untuk meyakinkan para konstituen bahwa suatu
program itu baik, efisien, efektif, dengan tujuan agar mendapatkan kepercayaan
dari masyarakat. Data yang digunakan pada evaluasi ini adalah data tidak valid,
dan bias, serta menggunakan table-tabel norma yang tidak tepat. Kemudian, Politically
controlled studies, studi ini tidak akan diterima jika, a) menahan evaluasi
sepenuhnya, dari akses audien, b) mencabut kesepakatan sebelumnya, untuk mengumumkan
temuan-temuan evaluasi, c) bias dalam pesan evaluasi, dengan mengumumkan
sebagian data, yang menguntungkan[48].
k.
Akreditasi
Akreditasi merupakan evaluasi proses
menilai lembaga yang menyajikan jasa, sesuai dengan standar yang telah
ditentukan. Adapun proses akreditasi sebagaimana berikut[49]:
1)
Lembaga
melakukan evaluasi/studi diri,
2)
Hasil
Evaluasi diserahkan kepada tim Asesor,
3)
Tim
Assesor meneliti evaluasi diri
4)
Temuan
dan penilaian
5)
Keputusan
lembaga Akreditasi. (terakreditasi penuh, bersyarat, tidak terakreditasi)
l.
Model
Evaluasi Terfokus Utilisasi
Model ini ditemukan oleh Patton[50] (1997: 2002), model ini bukan evaluasi formal atau resep untuk
melaksanakan evaluasi, melainkan suatu pendekatan, suatu orientasi dan satu set
pilihan untuk merancang dan melaksankan suatu evaluasi. Patton mengatakan
evaluasi ini tidak menyalahkan atau membenarkan dari beberapa metode, namun
kolaborasi dari beberapa model, sesuai kebutuhan suatu yang dievaluasi[51].
F.
Evaluator
Program Supervisi.
Secara umum
seorang evaluator, sebaiknya mampu melaksanakan, cermat, objektif, sabar dan
tekun, hati-hati serta bertanggungjawab. Selain itu evaluator ada beberapa hal
diantaranya: (a) Internal Evaluator/Evaluator internal, adalah seseorang
bagian dari pelaksana program, ditugaskan mengevaluasi program supervisi.
Kelebihannya, sangat memahami program supervisi madrasah, tepat pada sasaran,
dan tidak banyak mengeluarkan pendanaan. Kekurangannya, unsur subjektivitas (ditakutkan tidak dapat
melaksanakan penilaian secara objektif, dan tentunya hanya menampilkan
kelebihannya, dan tidak menampilkan kekurangan program), tergesa-gesa dan
kurang cermat, karena evaluator tersebut bertindak sebagai pelaksana program
dan evaluator.[52] External Evaluator/ Evaluator dari luar, petugas evaluasi
berasal dari instansi yang tidak terkait dengan kebijakan madrasah, tim ini
sering disebut team independent. Kelebihan, objektif, mempertahankan kredibelitas,
bekerja serius dan hati-hati. Kekurangan evaluator luar, orang baru dan tidak
terlalu memahami program, bagi instansi perlu mengeluarkan dana cukup banyak.[53]
Penulis
memberikan tambahan bahwa evaluator sebaiknya kolaborasi antara keduanya, agar
mendapatkan hasil evaluasi dengan baik, sebab evaluator internal dapat
mengurangi kekurangan evaluator eksternal yang pastinya tidak terlalu memahami
program madrasah.
Pengalaman pribadi penulis ketika di lembaga pendidikan, evaluator
yang betul-betul mendekati 100% objektif adalah ketika akreditasi, karena semua
dinilai dengan begitu rinci, seorang assessor menanyakan satu demi satu mulai
dari program, sampai administrasi, dan pelaksanaan, sambil dibimbing tentang
kekurangan maka ditambahkan bahkan sampai diberikan buku panduan tentang
pengaturan sirkulasi keuangan, namun tetap saja penilaian objektif, berbeda
dengan pengawas dari instansi kementrian, yang tidak mengeluarkan sertifikat
penentu mutu lembaga pendidikan, cenderung kurang sabar, dan kurang rinci,
apalagi seorang kepala sekolah atau madrasah, lebih ke subjektifitas dalam
penilaian tentang evaluasi diri madrasah.[54]
Objektivitas evaluator,
sangat dipentingkan demi kemajuan program supervisi, objektifitas tersebut akan
mendekati 100% jika dilengkapi dengan peralatan, diantaranya: Studi dokumen,
interview serta triangulasi, observasi, dan reduksi data, serta ditambah
kecermatan seorang evaluator.
Pihak
evaluator adalah 1) para profesional pendidikan, 2) personil internal badan
pemerintah, 3) ahli evaluasi dari perguruan tinggi, 4) guru dan administrator,
5) evaluator dari internal atau pun eksternal madrasah, dan 6)
supervisor. Kriteria untuk mengevaluasi kualitas kegiatan evaluasi adalah
1) kualitas holisme, evaluasi harus
menghindari distorsi realita yang sedang dievaluasi, 2) kualitas bantuan yang
mengarah pada perbaikan program, 3) kualitas penerimaan data lunak (software)
dan keras (hardware), 4) kualitas kerentanan evaluasi, terdapat diskusi
saling bertukar pendapat (hearing) dan diskusi antara evaluator dan yang
dievaluasi, dan 5) kualitas visi ke depan, tujuan evaluasi perbaikan sehingga
evaluator harus mampu membuka pandangan atas konteks yang berorientasi masa
depan.[55]
G.
Unsur-unsur
yang dievaluasi.
Sudjana mengutip Grotelueschen (1976), bahwa aspek yang dinilai
terbagi 3 kategori: Program Emphases, Program Resources, Program
Outcomes[56]. Tiga kategori tersebut, Pertama Titik berat program (Program
Emphases), berkaitan dengan prioritas, yaitu proses atau tujuan program; kedua,
Sumber-sumber Program (Program Resources), berkaitan dengan sumber
daya alam dan lingkungan, kebijakan, peraturan, serta kerjasama antar lembaga
penyelenggara program; ketiga, perubahan perilaku outcomes, dan
dampak-dampak yang ditimbulkan program (Program Outcomes), seperti perubahan
guru yang disupervisi.
Sudjana mengutip pendapatnya Anderson (1978) bahwa, unsur yang
dievaluasi terbagi atas 6 hal: diantaranya: Persiapan Program, tindak lanjut,
modifikasi program, dukungan program dari masyarakat, hambatan program,
landasan keilmuan dan teknologi. Sedangkan Mappa (1984), komponen yang
dievaluasi meliputi Perencanaan, Pelaksanaan, Pembinaan, Efisiensi,
efektifitas, dampak, dan keseluruhan program[57].
Pendapat para tokoh tentang komponen yang harus dievaluasi, pada
intinya mulai dari perencanaan program, pembagian tugas, pelaksanaan program,
pengawasan program dan evaluasi itu sendiri, karena dalam supervisi juga membutuhkan
proses manajerial sebagaimana fungsi manajemen secara umum. Evaluator dapat
mencari informasi yang tidak dapat dilakukan dengan metode lain.
Oliva, ahli Supervisi mengatakan
bahwa evaluasi supervisi meliputi perencanaan, instrumen, organizing,
dan pelaksanaan secara prosedural, menganalisis, mengintepretasikan, dilanjut
pembuatan keputusan guna pengembangan program supervisi[58].
H.
Perencanaan
dan Rancangan Konsep Evaluasi Program Supervisi
Perencanaan
Evaluasi mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1) Analisis Kebutuhan, Kaufman
dan Fenwick, dalam buku Needs Assesment, Conscept, and Aplication yang
dikutip Arikunto, mengatakan bahwa sangat perlu menganalisis kebutuhan sistem
yang berlaku. 2) Menyusun Proposal Evaluasi Program, Proposal adalah sebuah
rencana kerja yang menggambarkan semua kegiatan pelaksanaan program. 3) Membuat
alat instrumen evaluasi program. syarat instrument: a) valid, tepat untuk
menilai objek, b) reliable, dapat dipercaya, bukan palsu, c) praktikebel, mudah
digunakan, praktis, dan tidak rumit, d) ekonomis, tidak banyak mengeluarkan
uang, waktu dan tenaga[59].
Contoh
Penyusunan instrumen kuantitatif:
|
NO
|
Pertanyaan
|
Opsi alternatif
|
||||
|
1
|
Program
Supervisi terlaksana dengan baik
|
Selalu
|
sering
|
jarang
|
kadang
|
Tidak
pernah
|
|
2
|
Program
Pembimbingan terhadap guru
|
Selalu
|
sering
|
jarang
|
kadang
|
Tidak
pernah
|
Gambar
07.
Contoh
penyusunan kualitatif
-
Untuk
guru
Sebelum mengajarkan suatu pokok bahasan, apakah bapak/ ibu membuat
RPP?
-
Untuk
kepala sekolah
RPP pada Sekolah bapak dibuat dengan TIM atau individu guru?
Konsep evaluasi
program dapat dilihat pada pembahasan di bawah[60]:
1.
Penelitian
Pendahuluan
Penelitian pendahuluan adalah mempelajari
tempat yang akan dievaluasi agar mengetahui, situasi kondisi, toleransi yang
ada, pandangan dan jangkauan.
2.
Proposal
Evaluasi Program Supervisi
Proposal evaluasi berisikan latar
belakang, fokus masalah, metode dan pendekatan penelitian.
3.
Sumber-sumber
Evaluasi
Sumber evaluasi berasal dari:
a.
Tenaga
(jumlah dan kualitas tenaga, pakar
dalam bidang tertentu, salah satunya adalah pakar pendidikan, asisten
evaluator).
b.
Organisasi
tim evaluator.
Tim tersebut terdapat tim leader,
organisasi tim evaluator terdiri dari tim teknis, yang melaksanakan pelaksanaan
evaluasi dan tim administrasi yang memberikan dukungan administrasi umum dan
keuangan kepada tim teknis.
c.
Anggaran
Anggaran dalam
perencanaan evaluasi sangat penting terhadap pelaksanaan evaluasi.
Arikunto
menjelaskan secara detail tentang rancangan evaluasi program, minimal memuat;
a) judul kegiatan, b) alasan dilaksanakan evaluasi, c) tujuan, d) pertanyaan
evaluasi, e) metodologi yang digunakan, f) prosedur kerja, dan langkah-langkah
kegiatan, biasa disebut deangan plan operational:[61]
Rencana Operasi Evaluasi Program
|
No
|
Jenis
Kegiatan
|
Januari
|
Februari
|
Maret
|
April
|
Keterangan
|
||||||||||||
|
1
|
Persiapan
petugas
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pengumpulan
data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Analisis data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pengadaan dan
penyerahan laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Gambar 08.
4.
Cart
Pembantu Perencanaan dan Pelaksanaan Evaluasi
Pada bagian ini juga perlu
dilaksanakan, minimal ada jadwal pelaksanaan evaluasi program.
5.
Tender
dan Kontrak Kerja
Item tersebut termasuk pedoman dari
pelaksanaan evaluasi yang terdiri dari: a) tujuan dari evaluation, b)
identifikasi para pemangku kepentingan dan pertanyaan-pertanyaan yang harus
diteliti, c) prosedur penjaringan data, d) prosedur untuk menganalisis
kuantitatif dan kualitatif, dan informasi data, e) rencana manajemen, f)
rencana pelaporan, g) metode control kualitas penjaringan, analisis data dan
pelaporan, h) layanan-layanan personalia, informasi, dan material yang
disediakan oleh klien, termasuk akses kepada data, i) kerangka waktu untuk
bekerja, j) prosedur amandemen kontrak, dan penyelesaian kontrak, k) anggaran
untuk kerja, termasuk jumlah yang harus dibayar, l) persyaratan telaah periodik
dan modifikasi kesepakatan ketika perkembangan pekerjaan mengharuskan adanya
perubahan.
6.
Laporan
Hasil Evaluasi
Laporan dalam evaluasi paling tidak
memuat sebagai berikut: a) Jumlah halaman, b) bahasa, c) keterbacaan, d) bentuk
laporan, e) referensi sumber.
I.
Langkah
Pelaksanaan Evaluasi Program Supervisi
Langkah
evaluasi program supervisi, mengambil dari buku Arikunto tentang evaluasi
program, adapun langkahnya sebagai berikut[62]:
1.
Persiapan
Evaluasi Program Supervisi
Persiapan ini meliputi pembuatan instrumen, menentukan model
evaluasi serta menentukan metode evaluasi. Evaluasi program sebenarnya seperti
penelitian lainnya, bedanya pada tujuannya. Wirawan menyatakan bahwa desain
evaluasi adalah kerangka proses melaksanakan evaluasi dan rencana mendapatkan
dan memanfaatkan data, sehingga diperoleh informasi yang presis, mencukupi atau
hipotesis dapat diuji secara tepat dan tujuan evaluasi dapat dicapai. Seperti
halnya pendapat Rowley, dikutip dari bukunya Wirawan, bahwa:
A Research
design is the logic that links the data to be collected and the conclusion to
be drawn to the initial question of the study, Internet ensures coherence.
Another way of viewing a research design is to see Internet as action plan for
getting from the questions to conclusion. Internet should ensure that there is
a clear view of what is to be achieved….[63]
Mengevaluasi program supervisi dapat menggunakan jenis penelitian
Kualitatif dan Kuantitatif, atau juga dapat melakukan metode campuran antara
keduanya. Tetapi kuantitatif sifatnya adalah sebagai pendukung evaluasi,
seperti penyajian tabel, dan lain sebagainya. Oliva [64], memberikan contoh dalam pembuatan intrumen untuk evaluasi program
supervisi secara self evaluation, maupun evaluasi program supervisi by
teacher or by objectives.
2.
Pelaksanaan
Evaluasi Program Supervisi
Pelaksanaan evaluasi program supervisi
dilakukan dengan, a) Pengambilan data, b) Observasi, c) menggunakan Angket, d)
Wawancara, e) Analisis Dokumen dan artifak.
Tabel
Alat-alat Pengumpul Data
|
Alat
|
Waktu Pelaksanaan
|
Keuntungan
|
Kelemahan
|
|
Tes,
Kuesioner, survey, atau daftar check list
|
Ketika membutuhkan data banyak,
secara cepat dan mudah dari orang-orang tanpa merasa terancam
|
2.
Pengolahannya
murah
3.
Mudah
membandingkan dan menganalisisnya
4.
Mampu
menggali data dari banyak orang
5.
Bisa memperoleh
data banyak
6.
Banyak contoh
test, kuesioner, daftar yang sudah ada, tanpa harus repot membuatnya.
|
1.
Mendapat feedback,
tidak sama
2.
Penyimpangan
respons
4.
Survey perlu
keahlian sampling
5.
Tidak akan
mendapatkan cerita sepenuhnya.
|
|
Wawancara
|
Ketika
menghendaki pemahaman, kesan, atau pengalaman, guru, madrasah, atau
mempelajari lebih jauh jawaban tes/ kuesioner mereka.
|
1. Mendapatkan informasi yang penuh dan mendalam
2. Membangun hubungan dengan responden/ informan.
3. Fleksibel
|
1.
Memakan
banyak waktu
2.
Susah
melakukan analisis
3.
Membutuhkan
dana banyak
4.
Pewawancara
bisa membiaskan tanggapan mereka.
|
|
Analisi
Dokumen dan Artefak
|
Ketika
menghendaki kesan, tentang berjalanannya program tanpa menggangu program atau
orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan program.
|
1. Mendapatkan data yang komprehenshif dan sifatnya historis
2. Tidak menghentikan rutinitas orang-orang dalam melaksanakan
aktifitas
3. Data akan senantiasa siap digali
4. Kadang bisa bias
|
1.
Kadang
memakan banyak waktu
2.
Data mungkin
tidak lengkap
3.
Harus jelas
apa yang akan dicari
4.
Bukan alat
yang fleksibel, untuk menggali data, hanya terbatas terdapat pada dokumen
atau artefak itu.
|
|
Observasi
|
Untuk
mendapatkan data yang akurat tentang bagaiamana, program sebenarnya berjalan,
khususnya mengenahi proses.
|
Memandang
pelaksanaan program sebagaimana adanya
Bisa
beradaptasi dengan kejadian yang sedang berlangsung.
|
1.
Sulit
menafsirkan perilaku yang tampak
2.
Sulit
mengkategorisasikan observasi
3.
Bisa
mempengaruhi perilaku para pelaksana program
4.
Bisa memakan
biaya banyak
|
|
Kelompok Fokus
|
Menggali
Suatu Topik secara mendalam melalui diskusi kelompok, misalnya reaksi atas
pengalaman atau saran pada program supervisi
atau memahami keluhan
|
1.
Alat cepat
dan terpercaya untuk mendapatkan kesan
2.
Alat paling
efisien dalam mendapatkan data dalam waktu singkat
3.
Dapat
menangkap inti program
|
1.
Bisa sulit
menganalisis respon
2.
Perlu
fasilitator yang bagus demi keamanan dan kedekatan
3.
Sulit
menjadwal waktu.
|
Gambar
09. Sumber : Arikunto, 2009: 121
Berdasarkan tabel tersebut dapat dipahami bahwa setiap alat
pengumpulan data pasti ada kelemahan dan kelebihan, maka dalam mengevaluasi
program, sebaiknya digunakan semua, ketika menganalisis data akan lebih leluasa
mencari keabsahan data.
J.
Hasil
evaluasi dan tindak lanjut.
Qur’an
telah menganjurkan untuk selalu mengingatkan, pastinya akan bermanfaat, QS
Azzariyat, ayat 55.
Artinya: Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya
peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Q.S. Az-Zariyat: 55)
Hasil
evaluasi dibuat laporan, selayaknya laporan penelitian, dengan dilengkapi
rekomendasi, pada penelitian disebut dengan saran, intinya memperbaiki
kekurangan dan mengembangkan kelebihan pada program supervisi.
V.
Penutup
Pembahasan evaluasi program supervisi telah berlalu, jika ada
kekurangan mohon masukan, kelebihan merupakan anugerah.
A.
Simpulan
Program
Supervisi adalah rencana teratur guna membimbing guru, diadakan secara
kelembagaan madrasah maupun oleh para pengawas sekolah, namun lebih baik
diadakan oleh Madrasah. Implementasi supervise dilaksanakan secara continue
menjadikan lebih baiknya madrasah, karena secara manajemen sebuah program perlu
adanya pengawasan.
Evaluasi
Program Supervisi merupakan kegiatan penilaian tentang keefektifan, maupun
keefisienan sebuah program supervisi dalam mengembangkan potensi serta
memperbaiki kekurangan, membimbing guru maupun karyawan madrasah agar lebih
kreatif dan bisa belajar mandiri guna mendidik peserta didik. Islam juga telah
mengajarkan evaluasi sebagaiamana pada surat Al-Khasr ayat 18, bahwa
merenungkan kegiatan yang telah dilaksanakan guna kehidupan akan datang.
Evaluasi dapat
dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi, dan memilih metode evaluasi
kuantitatif maupun kualitatif, atau kombinasi antara keduanya. Evaluator
terdiri dari internal dan eksternal, guna mengurangi subjektivitas. Masing-masing
evaluator mempunyai kelebihan dan kekurangan.
B.
Saran
Evaluasi
program hendaknya dilaksanakan oleh para praktisi pendidikan, dalam segala
program khususnya pada program evaluasi agar mencapai tujuan dengan baik. Bagi
para akademisia agar selalu meningkatkan daya kreativitas dalam memahami teori
dan mengaplikasikan.
Al-qur’an
terjemah, disyahkan oleh Departemen Agama 1999, Toha Putra, Semarang.
Departemen
Agama RI, 2003, Pedodoman pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama,
Jakarta.
Peter
H. Rossi, 1993 Evaluation A Systematic Approach, SAGE Publications,
London.
Djudju
Sudjana, Prof., Dr., M.ed., 2006, Evaluasi Program Pendidikan Luar Madrasah,
Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dan PT. Remaja
Rosdakarya, Bandung.
Georgeo
R. Terry, ed. G.A. Ticoalu, 2003, Dasar-dasar Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta:
cet VIII.
Nana
Shaodih Sukmadinata,. Prof. Dr., Penelitian Evaluatif, PT Remaja Rosdakarya, dan Program Pascasarjana
Universias Pendidikan Indonesia, Bandung
Ngalim
Purwanto, 2009, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, PT. Remaja
Rosdakarya bandung.
Peter
F. Oliva, 1984, Supervision for Today’s School, Longman, New York.
Piet
A. Sahertian, Prof., Drs., 2000, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi
Pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, Rineka Cipta,
Jakarta.
Suharsimi
Arikunto, 2004, Dasar-dasar Supervisi, Fakultas Ilmu Pendidikan,
Universitas, Negeri Yogyakarta, PT. Asdi Mahasatya.
Syukur,
Fatah, Dr., S.Ag., M.Ag, 2011Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah,
Pustaka Rizki Putra, Semarang.
Suharsimi
Arikunto, Prof. Dr., 2008, Evaluasi Program Pendidikan, Bumi Aksara,
Jakarta, edisi II.
Wirawan,
Dr., MSL., Sp.A., MM., M.Si., 2012, Evaluasi, Teori Model, Standar Aplikasi,
dan Profesi, Rajawali Press, PT. RajaGrafindo Persada: Depok, Cet. 2.
http//www.masimamgun.blogspot.com
08 Februari 2010, diakses pada tanggal 5 Oktober 2012. Judul artikel (Resume
Pengembangan Program dan Evaluasi Supervisi Pengajaran Supervision And Program
Evaluation).jam 12:00 WIB.
[1] Wirawan,. Dr.,
MSL., Sp.A., MM., M.Si., Evaluasi, Teori Model, Standar Aplikasi, dan
Profesi (Rajawali Press, PT. RajaGrafindo Persada: Depok 2012) Cet. 2. Hal.
5-6
[2] Ibid, Wirawan,
hal. 5
[3] Georgeo R. Terry, ed. G.A. Ticoalu,
Dasar-dasar Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta: 2003, cet VIII, hal 10-12.
[4] Ngalim
Purwanto, M., Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung PT. Remaja
Rosdakarya: 2009, hal. 76
[5] Tujuan yang
tertulis pada program supervise, atau yang disebut Goals.
[6] Peter F.
Oliva, Supervision for Today’s School, Longman, New York :1984, hal.7-
8.
[7]
Suharsimi
Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas,
Negeri Yogyakarta, PT. Asdi Mahasatya, 2004, hal. 4-6
[8] Piet A.
Sahertian., Prof., Drs., Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam
rangka pengembangan sumber daya manusia, Rineka Cipta, Jakarta: 2000, hal.,
hal. 34-52
[9] Djudju
Sudjana, Prof., Dr., M.ed, Evaluasi Program Pendidikan Luar Madrasah,Program
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dan PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2006, hal. 4.
[10] Suharsimi
Arikunto, Prof. Dr., Evaluasi Program Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta:
2008, edisi II, hal, 8-10
[11] Opcit, Wirawan,
2012, hal. 17
[12]
Syukur, Fatah,
Dr., S.Ag., M.Ag, Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah, Pustaka Rizki
Putra, Semarang, 2011, hal. 100-101
[13] Op.cit.,Suharsimi
Arikunto, Prof. Dr., , Jakarta: 2008, hal. 12
[14] Ngalim
Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya
bandung: 2009, hal. 78-79
[15] 1)
Improvement of the teaching, bentuknya class room visit, pembinaan secara
individual maupun kelompok, demonstration teaching 2) Improvement of teacher
in servise, pertemuan guru, membaca, dan mencermati buku, menilai dan
menganalisis diri sendiri 3) The Selection and organization of subject
matter, mencari penunjang dalam pengembangan diri, experiment 4) Testing
and Measuring, mencoba dan menilai hasil usaha5) the rating of teacher, sebuah
pengembangan, dengan rating card 6) Developing Curriculum, pengembangan
kurikulum 7) Organizing For Instruction, mengkoordinasi termasuk membuat
kelompok belajar murid, rencana kelas pengalokasiona waktu dan lain sebagainya
8) Providing Staff, merekrut, seleksi,
dan penempatan dan lain sebagainya 9) Providing Facilities, mendesain
fasilitas, 10) Providing Materials, mendesain materi pelajaran guna
mengimplementasikan kurikulum 11) Arranging For In Service Education, dengan
bentuk merencanakan dan melaksanakan belajar pengembangan diri, dengan berbagai
bentuk diantaranya, Workshop, konsultasi, field trips, dan pelatihan yang
berbentuk formal 12) Orienting Staff Members, guna mengembangkan organisasi pembinaan staff dengan membuat
groups staff community, sebgai fasilitas, bisa berbentuk MGMP dan lain
sebagainya. 13) Relating Special Pupil Service, mengembangkan keamanan
dan relasi demi tujuan madrasah 14) Developing Public Relation, pengembangan
Hubungan masyarakat guna sebagai promosi madrasah 15) Evaluating
Instruction, membuat Perencanaan, Instrumen, Organizing, dan pelaksanaan
secara procedural, menganalisis, mengintepretasikan, dilanjutkan pembuatan
keputusan guna pengembangan program supervisi .Peter F. Oliva, Supervision
for Today’s School, Longman, New York :1984, hal. 15-17
[16] Program
Supervisi SMA Negeri 1 Suralaga Jln. Geres – Suralaga Kecamatan Suralaga Kab.
Lombok Timur, oktober 2009.
[17] Hal tersebut
senada dalam bukunya, Prof. Drs. Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik
Supervisi Pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, Rineka
Cipta, Jakarta: 2000, hal. 52-70
[18]
Hal
tersebut berkenaan dengan teori pengelolaan kelas, yaitu "keterampilan
Pendidik menciptakan dan memelihara kondisi Kegiatan Belajar Mengajar, dengan optimal
dan mengembalikannya", dan dapat dipelajari dan di baca pada: Moh. Uzer
Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : PT.Remaja Rosda Karya, 2002),hal.97.
[19] Departemen
Agama RI, Peodoman pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama, Jakarta2003,
hal. 82-93
[20] Ibid,
Departemen Agama RI, Peodoman pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agamahal.
82-93
[21] Ibid, Departemen
Agama RI, Pedoman Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama, 95-97
[22] Evaluasi yang
bertujuan untuk intervensi tentang pelaksanaan program, mencocokkan antara
rencana dan pelaksanaan.
[23] Evaluasi
Manfaat ini, mengidentifikasi, menilai dan meneliti program, mengalami
perkembangan atau Penurunan, dengan bertujuan perubahan yang lebih baik serta
menemukan strategi baru.
[24] Evaluasi Impact
ini berfungsi sama dengan evaluasi manfaat, karena terjadi ketimpangan antara
Program dan pelaksanaan.
[25] Opcit, Wirawan, 2012, hal. 17
[26] Peter H. Rossi
Evaluation A Systematic Approach, SAGE Publications, London: 1993, hal,
8.
[27]
Baca Terjemahan
Alqur’an Toha Putra, di syahkan oleh Departemen Agama tahun 1999, hal. 437.
[28] Djudju
Sudjana, Prof., Dr., M.ed, Evaluasi Program Pendidikan Luar Madrasah,Program
Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dan PT. Remaja Rosdakarya,
Bandung, 2006, hal.18-19.
[29] Ibid,
Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, 2006, hal.30-31
[30] Ibid,
http//www.masimamgun.blogspot.com 08 Februari 2010, diakses pada tanggal 5
Oktober 2012..
[32] Opcit, Wirawan,
hal. 22-25
[33] Opcit,
Piet A. Sahertian., Prof., Drs., 2000, hal. 143
[34] Opcit,
Arikunto, 2008, hal. 21
[35] Opcit, Wirawan
79-124.
[36] Evaluasi
adalah proses menentukan sampai seberapa tinggi tujuan pendidikan sesungguhnya
dapat dicapai, missal kurikulum atau mata pelajaran mempunyai tujuan tertentu
berupa kompetensi. Wirawan, hal. 80-81.
[37] Lahir tanggal
28 Maret 1928 di bealieu, Hampshire Inggris, Ia mendapatkan gelar BA Bachelor
Of Art dalam bidang matematika (1948) dan Master Of Art (1950) dari Universitas
Of Melbourne, Australia, pada tahun 1956 ia mendapatkan gelar Ph.D., dari
Oxford University, Inggris. Ia berkarier di amerika serikat, Inggris, dan
Selandia baru. Ia menjadi Professor di Universitas California, Untuk lebih
lengkap baca di Wirawan opcit. hal, 84-85.
[38] Lebih mudahnya
adalah evaluator melihat efek setelah adanya program, seperti halnya setelah
diadakan pelatihan pada guru maka tidakan apa yang terlihat pada guru tersebut.
[39] Nana Shaodih
Sukmadinata,. Prof. Dr., Penelitian Evaluatif,
PT Remaja Rosdakarya, dan Program Pascasarjana Universias Pendidikan
Indonesia, Bandung, hal. 119-123
[40] Robert E.
Stake memperoleh gelar Bachelor In Arts dalam bidang matematika dari Univercity
Of Nabraska (1950) dan master of arts on education psychology (1954), gelar
Ph.D pada tahun 1958 dari bidang psikologi dari Priston Univercity, menjadi
professor pada tahun 1988 di Univercity Of Psycology, dan Univercity Of
Illinois. Ia menulis tujuh buku mengenahi evaluasi responsive dan studi kasus.
Ia mengembangkan evaluasi Responsive ketia menjadi Director of Circe,
Ibid, Wirawan, 2012, hal. 90.
[41] Ibid, Wirawan,
2012, hal. 89-90.
[42]
Daniel
Stufflebeam, lahir di Waverly, lowa, 19 September 1936, gelar B.A., dalam
bidang pendidikan music dari satet Univercity of lowa 1958, gelar M.Si, tahun
dalam bidang konseling dan psikologi dari Purdue Univercity 1962, Ph.d., dalam
bidang pengukuran dan statistic 1964, dan Post Doctoral dalam bidang Work
Experimental Design and Statistics di Univercity Of Wiscounsin 1965., karya
monumental dibidang Evaluasi CIPP. Ibid Wirawan 2012, hal. 93.
[45]
Lahir Atgerzdorf,
Vienna 19 September 1901, dari keluarga bangsawan, pendidikan dimulai dari guru
pivat dirumahnya, kemudian melanjutkan ke Gymnasium/ Grammar school, tahun 1918
ke university of Innsbruck kemudian ke university of Vienna dan mendapat gelar
Ph. D., dalam bidang filsafat sain, menjadi professor tahun 1934-1938
university of Vienna, menciptakan teori evaluasi sistem pada tahun 1930.,
Wirawan, 2012, hal. 107
[46]
Tokoh evaluasi
driven ini adalah, Peter Rossi, Huey Tysh Chen, dan banyak lagi tokoh yang
memperlajari teori ini, baca Wirawan 2012,
hal. 121-122.
[47]
Asumsi penulis,
setiap lembaga yang dievaluasi secara internal atau secara politik pasti akan
terjadi evaluasi semu, hal tersebut kemungkinan besar terjadi pada lembaga
pendidikan diligkungan kita, untuk menilai madrasah agar terakreditasi A, namun
tidak semudah yang kita bayangkan, karena assessor juga mempunyai standar
evaluasi yang sangat ketat.
[48]
Keterangan
strategi pelaksanaan evaluasi semu, lebih lengkap dapat dibaca pada Wirawan,
2012, hal. 122-124.
[49]
Ibid, Wirawan,
2012, hal.119-121
[50]
Michael Quinn
Patton, menyelesaika program doctor
bidang sosiologi di wiscounsin university, USA, kemudian menjadi dosen
Universitas Minneota, disamping menjadi dosen ia juga memegang beberapa jabatan
di universitas ini, 1975-1980 direktor university of Minnesota Social Research
da 10 tahun Minnesota Extension Service. Buku yang monumental diantaranya
adalah, Utilizasion Focused Evaluation, Qualitative Research and Evaluation dan
5 buku lainnya, Wirawan, 2012, hal. 118-119
[51]
Lebih jelas
dapat di baca pada buku Patton, Metode evaluasi Kualitatif, terjemah bahasa
Indonesia cet. 2006. Dan Wirawan 2012, hal. 118-119.
[52] Opcit,
Arikunto, 2008, hal. 23-24
[53] Opcit,
Arikunto, 2008, hal. 24-25
[54] Pengalaman di
lembaga SMK Hisbabuana Semarang, Akreditasi Desember tahun 2011
[55]
http//www.masimamgun.blogspot.com 08 Februari 2010, diakses pada tanggal 5
Oktober 2012. Judul artikel (Resume Pengembangan Program dan Evaluasi Supervisi
Pengajaran Supervision And Program Evaluation).
[56] Ibid,
Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, 2006, hal. 86.
[57] Ibid,
Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, 2006, hal. 86-87
[58] Peter F.
Oliva, Supervision for Today’s School, Longman, New York :1984, hal. 17
[59]
Adapun
langkah-langkah membuat instrument, a) identifikasi komponen program dan
indicator, b) membuat kisi-kisi, kaiannya dengan indicator program, sumber
data, metode pengumpulan data dan instrument, c) menyusun butir-butir
instrument, d) menyusun criteria penilaian, e) menyusun pedoman pengerjaan. Ibid, Arikunto,
Jakarta, 2008, hal. 71-92
[60] Ibid, Wirawan
hal. 125-146
[63] Desain
penelitan adalah logika yang menghubungkan data, selanjutnya dikumpulkan dan di
simpulkan, serta dibuat pertanyaan-pertanyaan dari studi, desain penelitian
memastikan terjadinya perpaduan. Cara lain memandang suatu desain penelitian
adalah melihatnya sebagai rencana tindakan untuk memperoleh dari pertanyaan ke
kesimpulan. Desain penelitian harus memastikan adanya pandangan jelas, sesuatu
tujuan yang akan dicapai. Opcit, Wirawan, hal. 147
[64]
Peter F. Oliva,
Supervision for Today’s School, Longman, New York :1984, hal. 536-569
[65]
Anonim adalah
status yang abu-abu, tanpa nama, tak memiliki panggilan apapun. Kebanyakan
mereka tidak menyebutkan nama karena alasan privasi dan sebagainya. Orang-orang
yang terbiasa memakai nama "Anonim" akan mudah dicurigai, akan
menjadi orang yang tidak dianggap begitu penting, kecuali kalau ia adalah
seorang penulis yang memiliki tulisan menarik dan bermanfaat. Namun bagi
pembaca dengan nama "Anonim", perlu dipertanyakan, apalagi bila 9
dari 10 pembaca adalah Anonim, bisa jadi mereka ini satu orang
[66]
Dari kata
bahasa inggris: Personal-Impersonal adalah dua kutub ekstrim dengan mana kita
memberlakukan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan subyek dan obyek. Saya
(Ego) sebagai subyek bisa memperlakukan obyek saya (Anda, Dia, Mereka, Kami,
Kita, Saya Sendiri) sebagai sesuatu yang Impersonal atau sesuatu yang Personal.

