Jumat, 01 Juli 2016

Evaluasi Program Supervisi

EVALUASI PROGRAM SUPERVISI PENDIDIKAN
DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM


I.            Pendahuluan
A.    Latar Belakang
Program Supervisi merupakan program pengembangan guna memperbaiki hal yang kurang baik, dan mengembangkan sesuatu yang sudah baik. Selain program supervisi, maka program tersebut perlu dievaluasi guna program yang lebih baik dari sebelumnya. Karena tujuan evaluasi adalah memperbaiki dan mengembangkan dari program selanjutnya.
Ilmu evaluasi sudah dikaji di Tiongkok, yakni diawali pada tahun 2000 SM, digunakan mengevaluasi pegawai kerajaan. Inggris juga dibentuk Tim Royal Commission Abad ke 19, bertugas mengevaluasi layanan publik, namun hanya merupakan aktivitas administrasi dan belum menjadi cabang ilmu pengetahuan mandiri. Amerika terdapat evaluasi sekitar tahun 1843, Horace Mann memimpin suatu evaluasi program guna mengevaluasi Lembaga Pendidikan, sampai di mana dalam mendidik para siswa. Winfred Tyler Ralp, menciptakan educational evaluating tahun 1930, terkenal dengan sebutan Bapak Evaluasi, ilmu evaluasi mulai berkembang berawal dari ilmu pendidikan, kemudian di adopsi oleh bidang lainnya[1].
Evaluasi di Indonesia mulai terlihat pada zaman Belanda dengan istilah connoisseurship, guna menilai amtenaar, dan kondite tentara serta polisi penjajah. Dilanjutkan di era selanjutnya pada lembaga Sekolah/ Madrasah sebagai evaluasi dengan bentuk penilik Madrasah guna mengevaluasi Madrasah dalam bidang administrasi pembelajaran, administrasi umum dan kesehatan siswa serta kebersihan lingkungan, kemudian langkah perbaikan diadakan remedial dan dilakukan oleh kepala Madrasah[2].
Penilik terkenal dengan sebutan pengawas, hal tersebutlah akhirnya memunculkan program supervisi. Dalam perkembangannya, pengawas maupun evaluasi dilakukan secara tersendiri, kemudian program supervisi demi kemajuan dan pembimbingan praktisi pendidikan maka evaluasi menjadikan hal pilihan demi suksesnya tujuan tersebut.

II.            Supervisi Pendidikan
Supervisi jika dibahas secara umum merupakan bagian dari manajemen, tepatnya pada fungsi controlling/pengawasan. Program manajemen pendidikan agar dapat mengimplementasikan program dengan baik, maka penyempurnaanya ada pengasan dan selanjutnya akan dievaluasi, hal ini menjadikan semakin majunya lembaga pendidikan, terkenal dengan sebutan madrasah atau sekolah.
Terry menyatakan bahwa pengawasan adalah mengukur kegiatan dengan tujuan, menentukan sebab-sebab penyimpangan dan mengambil tindakan korektif. Diterangkan juga bahwa pengawasan rata-rata digunakan untuk mengawasi keuangan, namun Terry mengungkap bahwa pengawasan suatu kegiatan perlu membuat ukuran, membandingkan antara kegiatan dengan program, memperbaiki penyimpangan, selalu berhubungan dengan yang diawasi sebelum kegiatan selesai, dan menyesuaikan cara mengawasi dengan objek sesuai kondisi dan hasil pengawsan[3].
Pengawasan efektif adalah membantu hubungan antara orang satu dengan lainnya, antara guru dengan murid, antara guru dengan karyawan, serta antara sesama dalam sebuah lembaga atau madrasah, guna menjalalankan program agar dapat sesuai dengan realita, demi tujuan objektif. Bukan sebaliknya hanya mencari kesalahan saja, dan memberi hukuman kepada yang bersalah, atau sejenisnya.
Supervisi Pendidikan adalah sebuah aktivitas pembianaan terencana guna membantu para guru, pegawai lembaga pendidikan, guna pekerjaan yang lebih baik secara efektif.[4] Program Supervisi secara implisit[5], mengarahkan perhatian kepada dasar-dasar pendidikan dan cara-cara belajar serta perkembangannya dalam pencapaian tujuan umum pendidikan. Program tersebut berisi bukan hanya untuk memperbaiki mutu guru dalam mengajar, namun juga untuk semua stake holder Lembaga Pendidikan Islam, termasuk fasilitas yang menunjang kelancaran proses belajar mengajar.
Awalnya supervisi sebagai pengawasan berbentuk “Inspection, snoopervision”, mencari kesalahan dan memata-matai. Sedangakan Supervisi Moderen, adalah sebuah pelayanan untuk guru, agar dapat mengembangkan potensi, belajar dan tetap konsisten dalam hal kegiatan positif, serta dinamis, agar guru lebih confidence dalam kegiatan belajar mengajar[6].
Singkatnya, Supervisi Pendidikan Islam terbagi menjadi dua, yaitu supervisi Manajemen Lembaga dan Supervisi Pengajaran, pembuatan program Supervisi dapat dilakukan dengan dipetakan sebagai berikut[7]:
1.      Supervisi Akademis/Supervisi pengajaran meliputi, Pengembangan Silabus/ Perumusan Indikator, Pengembangan RPP/Materi Pembelajaran, Peningkatan Penguasaan Metode Pembelajaran, Peningkatan Penguasaan Model Model Pembelajaran, Peningkatan Penguasaan Sistem Penilaian Hasil Belajar, Pelaksanaan Pembelajaran dan BK/Pengembangan Diri.
2.      Supervisi Internal Manajerial/Manajemen, Lembaga meliputi: Administrasi Tata Usaha, Kurikulum, Kesiswaan/Ekstra Kurikuler, Sarana/Prasarana, Humas/Hubungan Industri, Perpustakaan, Koperasi Madrasah/Koperasi Siswa dan, Lingkungan/ Budaya Madrasah.
Model, teknik dan pendekatan supervisi terbagai beberapa hal: dilihat dari pengembangan model supervisi meliputi (konvensional, Ilmiyah, Klinis, dan Artistik), kemudian dilihat dari pendekatannya meliputi (Direktif, Non Direktif, dan Kolaboratif), jika dilihat dari tekniknya maka akan mencakup (Individual, dan kelompok) [8].

III.            Program Supervisi di lembaga Pendidikan Islam.
A.    Pengertian Program Supervisi
Sudjana, mengartikan kata program yaitu, susunan kegitan terencana, memliki tujuan, sasaran, isi dan jenis kegiatan, pelaksanaan kegiatan, proses kegiatan, waktu, fasilitas, alat-alat, biaya, dan sumber-sumber pendukung lainnya[9].
Arikunto menyatakan bahwa program merupakan sistem, sedangkan sistem adalah satu kesatuan dari beberapa bagian, atau komponen saling berkaitan, bekerja sama antara satu dengan lainnya, guna mencapai tujuan. Adapaun komponen program terdiri dari unsur -unsur bangun, saling keterkaitan dan sebagai faktor penentu keberhasilan program, dan komponen program disebut sub sistem[10].
Program adalah rancangan kegiatan yang telah terkonsep tertulis maupun tidak tertulis, guna melaksanakan sebuah kegiatan. Organisasi profit maupun non profit pasti mengkonsep secara tertulis agar terdeteksi oleh anggota, agar dalam pelaksanaan dapat berjalan dengan teratur. Sebagaimana diungkapkan Wirawan, bahwa program adalah kegiatan atau aktifitas terancang guna melaksanakan kebijakan dan dilaksanakan dengan waktu yang tidak terbatas[11].
Secara operasional Syukur menegaskan bahwa program supervisi, secara konkrit melakukan bimbingan dengan bentuk: 1) membantu guru dalam melihat tujuan-tujuan pendidikan, 2) membantu guru dalam membimbing pengalaman belajar siswa, 3) membantu guru menggunakan sumber belajar, 4) membantu guru menggunakan metode dan media pembelajaran, 5) membantu guru dalam hal menilai kemajuan pesertadidik dan hasil pekerjaan guru, 6) membantu guru dalam memenuhi kebutuhan belajar pesertadidik, 7) membina guru dalam hal prestasi mental, kinerja dan moral, 8) membantu guru baru agar senang untuk meningkatkan kualitas, 9) membantu guru agar mudah adaptasi dengan lingkungan sekolah maupun masyarakat, 10) membantu guru dalam bidang totalitas kerja dan pengabdian di madrasah[12].

Program Supervisi sebaiknya, mempunyai beberapa hal diantaranya dapat di ilustrasikan sebagai berikut:
Gambar 01
Penulis mengambil simpulan dari beberapa pendapat bahwa program adalah seperangkat rencana tertulis secara detail, mulai dari nama kegiatan, tempat, waktu, dan dilengkapi dengan peralatan software maupun hardware, guna melaksanakan kegiatan secara teratur. Komponen program supervisi meliputi: Akademik, dan Administrasi sebagaimana telah diterangkan pada pengertian. Adapun ilustrasi program Supervisi sebagaiaman berikut:
Tabel 1 Komponen Program Supervisi
Program
Komponen
Sub Komponen
Indikator
Alat
Supervisi
Akademik
Pengembangan Silabus/ Perumusan Indikator,
Mencantumkan karakter
Checklist, instrument
Pengembangan RPP/ Materi Pembelajaran,
Proses Eksplorasi,
Checklist. Instrument
Peningkatan Penguasaan Metode Pembelajaran,
Ceramah,
Interview, observation
Peningkatan Penguasaan Strategi Pembelajaran,
Variatif dalam penggunaan strategi Pembelajaran, (Power of two, Discribing Picture, every one is teacher here/ Kulluna Mudarrisun, debat active dll)
Interview, observation
Peningkatan Penguasaan Sistem Penilaian Hasil Belajar,

Interview, observation, checklist
Pelaksanaan Pembelajaran dan, BK/Pengembangan Diri

Interview, observation, checklist
Administrasi/ manajerial
Program Kepala Madrasah
Supervisi akademik, kepemimpinan demokratis, kedisiplinan, penyuluhan ustadz, workshop, evaluasi program
Interview, observation, checklist
Program Jurusan
Kegiatan pengembangan pesertadidik, evaluasi program jurusan
Interview, observation, checklist
Program komite madrasah
Musyawarah tahunan, identivikasi kemajuan
Interview, observation, checklist
Program Humas
Mengadakan ivent internal, eksternal dan kerjasama, evaluasi program.
Interview, observation, checklist
Program Kurikulum
Prota, promes, penjadwalan, evaluasi kurikulum
Interview, observation, checklist
Program Sarana Prasarana
Pengadaan barang, fasilitasi sarana pendidikan, evaluasi program sarana prasarana, perpustakaan, media belajar pesertadidik, dan guru.
Interview, observation, checklist
Program Personalia/ Pengembangan Sumber Daya karyawan, dan staff
Workshop, pelatihan guru, dan pelatihan tenaga kependidikan dan staff
Interview, observation, checklist
Program sirkulasi keuangan
Rencana penganggaran, implementasi, evaluasi sirkulasi keuangan.
Interview, observation, checklist
          Sumber Arikunto, dikembangkan oleh penulis[13].
Program d iatas dapat diidentifikasi, beberapa item, komponen, dan indikator program. Arikunto memaparkan komponen program adalah unsur-unsur yang membangun sebuah program, sebagai faktor penentu keberhasilan program, maka ada beberapa Komponen, Sub Komponen, dan indikator program, sebagaimana telah terpaparkan di atas.
B.     Kegunaan Program Supervisi Pendidikan Islam.
Program Supervisi memberikan petunjuk perbaikan terhadap penyimpangan dalam pengelolaan Sekolah/Madrasah, meliputi: 1. Proses dan hasil pelaksanaan kurikulum, kegiatan Madrasah dibidangpengelolaan gedung dan bangunan halaman atau dengan kata lain Pengelolaan Hardware, kemudian 2. pengembangan dibidang personal Madrasah, termasuk guru dan kepala madrasah, yang mencakup kedisiplinan, sikap, tingkahlaku, pembinaan karier, peningkatan kemampuan ketrampilan dan pengetahuan, dan 3. Bidang tata usaha, keuangan dan usrusan kepegawaian, serta 4. Hubungan Madrasah dengan badan pembantu penyelenggara pendidikan dan maysarakat umum[14].
Oliva, mengambil dari pendapat Burton, Barr, dan Leo, bahwa tugas sekaligus kegunaan supervisi, diantaranya: 1) Improvement of the teaching, 2) Improvement of teacher in servise, 3) The Selection and organization of subject matter, 4) testing and measuring, 5) the rating of teacher, 6) Developing Curriculum, 7) Organizing For Instruction, 8) Providing Staff, 9) Providing Facilities, 10) Providing Materials, 11) Arranging For In Service Education, 12) Orienting Staff Members, 13) Relating Special Pupil Service, 14) Developing Public Relation, 15) Evaluating Instruction[15].
Penulis setuju dengan ungkapan Oliva tersebut bahwa, kegunaan supervisi adalah untuk mengembangkan mengembangkan Madrasah, perlu memperhatikan dua hal terkait, tentang pengembangan pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar,(Manajemen kelas, dan perangkat pembelajaran) dan manajerial lembaga pendidikan (berkenaan dengan kepemimpinan Madrasah).
C.     Langkah Membuat Program Supervisi
Program Supervisi perlu dibuat dengan baik, karena pelaksanaan sebuah kegiatan tanpa adanya konsep program tertulis, dipastikan tidak akan mendapatkan hasil baik, sebaik-baik apapun tidak akan dapat dievaluasi serta tidak dapat dikembangkan, juga tidak akan dapat menemukan strategi baru hususnya program supervisi.
Adapun langkah membuat program supervisi, hendaknya mengkonsep sebagaiamana berikut:
1.      Nama madrasah yang akan disupervisi
2.      Lokasi madrasah
3.      Waktu Pelaksanaan Supervisi
4.      Supervisi Akademik, meliputi:
a.       Perencanaan Pengajaran (Program Tahunan, Program Semester, Silabus, KKM, RPP, dan Buku Nilai)
b.      Pelaksanaan Pembelajaran
Supervisi pelaksanaan pembelajaran sebagaimana kutipan dari program supervisi SMA N 1 Suralaga Jln. Geres – Suralaga Kecamatan Suralaga Kab. Lombok Timur, oktober 2009, seperti di bawah ini[16]:
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada tahap Pra-observasi, Observasi, dan Pasca-obsevasi.
1)      Pra-observasi ( Pertemuan awal)
Pada pertemuan awal perlu memperhatikan: a) Menciptakan suasana akrab dengan guru; b) Membahas persiapan yang dibuat oleh guru dan membuat kesepakatan mengenai aspek yang menjadi fokus pengamatan; c) Menyepakati instrumen observasi yang akan digunakan.
2)      Observasi ( Pengamatan pembelajaran)
Pengamatan pembelajaran memperhatikan beberapa hal, yaitu; a) Pengamatan difokuskan pada aspek yang telah disepakati; b) Menggunakan instrumen observasi; c) Di samping instrumen perlu dibuat catatan (fieldnotes); d) Catatan observasi meliputi perilaku guru dan siswa; e) Tidak mengganggu proses pembelajaran.
3)      Pasca-observasi (Pertemuan balikan).
Pertemuan balikan, yaitu setelah melakukan observasi, biasanya dilakukan; a) Dilaksanakan setelah observasi; b) Menanyakan kepada guru mengenai proses pembelajaran yang baru berlangsung; c) Menunjukkan data hasil observasi (instrumen dan catatan), beri kesempatan guru mencermati dan menganalisisnya; d) Diskusikan secara terbuka hasil observasi, terutama pada aspek yang telah disepakati (kontrak) – Berikan penguatan terhadap penampilan guru. Hindari kesan menyalahkan. Usahakan guru menemukan sendiri kekurangannya; e) Berikan dorongan moral bahwa guru mampu memperbaiki kekurangannya; f) Tentukan bersama rencana pembelajaran dan supervisi berikutnya.
Observasi dalam supervisi yang dilakukan oleh Piet adalah sebagai berikut:
Tahapan Kegiatan Observasi Pembelajaran meliputi
a)         Pendahuluan/ Pra-kegiatan, meliputi[17]:
1.     Kesiapan alat bantu dan media pembelajaran (Sumber Belajar). Guru menyiapkan sumber belajar yang diperlukan secara lengkap.
2.     Motivasi, artinya membangkitkan kemauan belajar siswa,  agar siswa merasa tertarik ingin tahu, apa yang akan dipelajarinya. Hal ini dapat diamati, misalnya ketika guru:
a.       Mengawali pelajaran dengan ceria.
b.      Menunjukkan kegunaan Kompetensi Dasar (KD) yang akan dibahas dalam  kehidupan   sehari-hari atau   hubungannya dengan mata pelajaran yang lain,
c.       Memberi permasalahan yang menantang sehingga membangkitkan keinginan siswa untuk memecahkannya.
3.     Apersepsi. (Pengetahuan prasyarat yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas). Ini dapat dilihat apakah guru mengajukan pertanyaan mengenai materi pelajaran yang lalu yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas. Hal tersebut harus dilakukan dengan baik.
4.     Kejelasan Kompetensi Dasar/Indikator. Guru menyampaikan baik lisan maupun tertulis KD/Indikator yang harus dikuasai siswa setelah selesai pembelajaran.
5.     Kesiapan bahan ajar (Sumber Belajar). Guru telah menyiapkan bahan ajar, baik berupa buku teks, modul, kaset/cd pembelajaran, dsb.


c.       Kegiatan Pokok
Kegiatan pokok meliputi: 1) Penguasaan Materi, Guru tampak mantap dan percaya diri, tidak ragu-ragu  dalam menyajikan pembelajaran, serta pertanyaan-pertanyaan siswa dijawab dengan tepat. Jika penyaji materi berlatar belakang pendidikan sama dengan guru yang disupervisi pengamatan dapat lebih teliti dengan memperhatikan kebenaran konsep-konsep yang disampaikan oleh guru. 2) Pengelolaan kelas, Siswa bisa berinteraksi dengan guru, antar teman, bahan ajar, dan alat-alat pembelajaran (Sumber Belajar). 3) Pengelolaan waktu, Mengidentifikasi tentang Penggunaan waktu yang tersedia dikelola dengan baik dalam pembelajaran, dan lebih banyak digunakan untuk kegiatan siswa dibandingkan dengan kegiatan guru.4) Metode/ pendekatan yang bervariasi, Guru kaya akan metode dan strategi pembelajaran, dan diterapkan sesuai kondisi dan situasi, yang sedang berlangsung. 5) Penggunaan alat bantu/ media pembelajaran, Menggunakan media clasikal sampai multimedia. 6) Peran guru sebagai fasilitator, Guru bukan hanya mengajar namun bisa memposisikan diri sebagai fasilitator, contoh dalam diskusi, pesertadidik dibuat diskusi panel, jika mengalami kesulitan guru akan melengkapi kekurangan, mulai pemecahan masalah dalam diskusi, sampai ke solusi, kongret dalam pencarian konsep teori dalam buku.7) Teknik bertanya; dengan bentuk: a) Mengajukan pertanyaan kepada semua siswa  b) Memberi waktu tunggu bagi siswa untuk berpikir, c) Menghindari jawaban serentak dengan menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab, Sikap guru dalam menanggapi pertanyaan pesertadidik Dalam menanggapi pertanyaan/ jawaban siswa, sikap guru[18]: a) Sabar mendengarkan sampai selesai  (tidak memotong pertanyaan/ jawaban siswa); b) Tidak mencemooh walaupun pertanyaan/ jawaban siswa kurang tepat; c) Tidak langsung menyalahkan pendapat siswa; d) memberi penghargaan pada pertanyaan yang berbobot/ jawaban yang tepat, 8) Penggunaan papan tulis, Penggunaan papan tulis dengan pembagian sebagai berikut: a) untuk menuliskan hal-hal yang segera dihapus, dan yang tidak dihapus sampai akhir pembelajaran, b) untuk menulis pokok-pokok penting saja, dan teknik menulis tidak membelakangi siswa.
Kemudian dilanjutkan 9) Interaksi guru – peserta didik. Guru sebagai teman di dalam kelas, jadi siswa akan belajar dengan enjoy dan kondusif. 10) Interaksi antar peserta didik, Hubungan guru dan siswa atau hubungan antar siswa dalam pembelajaran tampak akrab dan saling menghormati. 11) Aktivitas peserta didik a – g Semua kegiatan dapat  dilakukan dengan baik, 12) Sikap dan minat peserta didik dalam pembelajaran. Sikap tersebut adalah; a) jumlah siswa yang hadir > 95 % ; b) tampak sebagian besar ( > 75%) siswa membawa buku pelajaran yang relevan; c) sebagian besar ( > 75%) siswa tampak mencatat.
Pencapaian KD/Indikator, Pertanyaan-pertanyaan guru yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran/indikator/KD, baik yang disampaikan selama pembelajaran maupun di akhir pembelajaran, sebagian besar ( > 75%) dapat dijawab oleh siswa dengan baik.   
Penutup/Pasca Kegiatan Guru dapat menyimpulkan hasil kegiatan belajar mengajar dengan diakhiri penutup. Lalu membuat rangkuman-rangkuman, pemberian tugas untuk pertemuan berikutnya, Guru memberikan tugas (PR/baca buku/mencari informasi, dsb) untuk pertemuan berikutnya.
D.    Supervisi Manajemen/Administrasi[19]
Supervisi manajerial meliputi dari kepala madrasah, sampai ke tenaga kependidikan, redaksi lain bahwa Supervisi Internal Manajerial/Manajemen, Lembaga meliputi: Administrasi Tata Usaha, Kurikulum, Kesiswaan/Ekstra Kurikuler, Sarana/Prasarana, Humas/Hubungan Industri, Perpustakaan, Koperasi Madrasah/ Koperasi Siswa dan, Lingkungan/Budaya Madrasah.
Supervisi manajemen atau biasa dikenal dengan Supervisi administrasi, meliputi administrasi kepala madrasah, administrasi keuangan, administrasi ketenagaan, administrasi perlengkapan pendidikan, administrasi keuangan, administrasi pelaksanaan ujian akhir, administrasi penerimaan peserta didik baru, administrasi hubungan madrasah dengan masyarakat, administrasi kelembagaan, administrasi KKG, laboratorium, perpustakaan, surat menyurat, dan perkantoran.[20]
E.     Langkah-langkah supervisi Manajerial/Administrasi[21]
Langkah ini menjadi pijakan bagi para pengawas Madrasah, atau khususnya bagi yayasan, atau kepala madrasah, guna pengembangan lembaganya, langkah tersebut adalah:
1.         Tahap persiapan/ perencanaan.
Tahap perencanaan meliputi beberapa hal diantaranya penyususanan program supervisi berdasarkan jenis kegiatan, dan standar program kegiatan. Dalam organiasi Supervisi, juga terdapat mekanisme pelaksanaan, pelaporan dan tindak lanjut, yaitu: Pertama, Menyiapkan instrumen atau penjelasan teknis Supervisi dan kebijakan terbaru, tentang petunjuk kegiatan pendidikan di Madrasah. Kedua, Menyiapkan peralatan, media atau bahan lain, seperti buku, pedoman, surat tugas dsb.
2.         Pelaksnaan Supervisi
Melaksanakan Supervisi seorang supervisor, sebaiknya berusaha menggunakan beberapa peralatan dan improvisasi sebagai berikut; a) Instrumen agar terarah; b) Minimal dilakukan awal dan akhir semester; c) Mampu mengembangkan instrumen; d) Tidak menggurui, tetapi mengugunakan siasat problem solving; e) Siapapun yang disupervisi pada madrasah bukan bawahan melainkan mitra kerja; f) Menguasai materi yang akan disupervisi; g) Mampu merumuskan tujuan; h) Menguasai teknis edukatif dan administratif dalam Supervisi; i) Dilakukan berkesinambungan; j) Menjalin kerjasama dengan semua pihak; k) Pelaksanaan Supervisi melibatkan pimpinan madrasah diantaranya (Ketua kelompok, Kepala seksi/kepala bidang Mapendais, dan tipe organiasasi, dan Kepala Madrasah/wakil kepala Madarasah); l) Dokumentasi Hasil supervisi, dengan bentuk pelaporan dengan berkriteria (Dapat dibaca tentang keterlaksanaan program, Kemantapan instrumen, Kejelasan supervisi, Hasil supervisi dengan memaparkan hambatan dan rintangan); m) Tindak lanjut, yaitu (Merencanakan dan melaksanakan langkah pembinaan atau program pembinaan, Program supervisi selanjutnya, Dokumentasi hasil supervisi secara baik).
Setelah mengetahui langkah pembuatan program supervisi, maka pembuatan program supervisi sebagaimana dapat mencermati gambar 01, yang telah paparkan di atas.

IV.            Evaluasi Program Supervisi di Lembaga Pendidikan Islam.
A.    Pengertian Evaluasi Program.
Madrasah membutuhkan evaluasi demi perbaikan program, khususnya pada program supervisi. Secara organisatoris jarang sekali dilakukan hal tersebut, karena beberapa hal, diantaranya kurang memahami adanya pengawas, dan kurangnya memahami ilmu supervisi, maupun evaluasi, maka pemabahasan ini akan berguna bagi praktisi pendidikan, guna perbaikan program.
Wirawan berpendapat, evaluasi program adalah kegiatan atau aktivitas terencana dan terkonsep serta sistematis, guna kebijakan kedepan dan dilaksanakan dengan waktu yang tak terbatas. Evaluasi program terbagi menjadi tiga, yaitu evaluasi proses[22], Evaluasi manfaat [23]Outcame Evaluation”dan evaluasi akibat[24] (Impact Evaluation) [25].
Evaluasi secara pemahaman singkat guna mencocokkan dari program dan pelaksanaan, jika program tidak sesuai dengan pelaksanaan maka perlu diperbaiki, namun jika sudah sesuai antara rencana dan pelaksanaa, maka diperlukan pengembangan selanjutnya. Adapun menurut Rossi dengan bukunya Evaluation A Systematic Approach, menyatakan “Evaluation Research is the systematic application of social research procedures for social intervention program[26]. Rossi menjelaskan bahwa evaluasi adalah sebuah sistem aplikasi sosial yang digunakan untuk intervensi pada sebuah program kegiatan. Jika tidak melakukan intervensi, maka belum dinamakan evaluasi, evaluasi berguna untuk mencocokkan program dengan pelaksanaan, kemudian berfungsi untuk kebijakan pembuatan selanjutnya.
Islam telah mengajarkan bahwa perlunya mengevaluasi demi hari esok, seperti terdapat pada Surat Al-Khasr ayat 18:
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ 
Hai orang-orang yang ber­iman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah merenungkan se­tiap diri/ melihat kembali, sesuatu perbuatan lampau untuk hari esok. Dan takwalah kepada Allah! Sesung­guhnya Allah itu Maha Menge­tahui sesuatu yang kamu kerjakan[27].

Kata Merenung yang ada dalam kandungan surat Al-Khasr ayat 18 tersebut dimaknai sebagai evaluasi, karena perenungan tersebut menunjukkan menilai setelah pelaksanaan kegiatan, guna hari esok agar lebih baik dalam bertindak, maupun berfikir lanjut. Kemudian dialokasikan pada lembaga pendidikan agar selalu merenung setelah pelaksanaan kegiatan, termasuk kegiatan program supervis perlu adanya evaluasi, agar proses pembimbingan lebih bermakna dan terlihat maju dalam setiap periode.
Sudjana mengambil pendapatnya dari Steele: 1977: 21, bahwa evaluasi program adalah proses penetapan secara sistematis tentang nilai, tujuan, efektivitas, atau kecocokan sesuatu dengan kriteria dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.[28] Maka dapat diambil benang merah, bahwa evaluasi program adalah mencocokkan dari konsep program dengan pelaksanaan program, agar setelah dicocokkan terlihat program tersebut terlaksana, atau tidak terlaksana, jika terlaksana semua maka perlu pengembangan, dan jika ada beberapa hal tidak terlaksana, maka tugas evaluator adalah mencari penghambat, dan mencari solusi agar program kedepan dapat terlaksana dengan baik.
Evaluasi program bukan murni penelitian dan bukan murni evaluasi, namun gabungan diantara keduanya, karena penlitian evaluative selain menemukan sesuatu yang baru, juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan instansi pemerintah, dan penelitian program dilakukan sebelum penyusunan program, selama program dilaksanakan. Sedangkan evaluasi program dilakukan hanya untuk menghasilkan data sebagai masukan guna pengambilan keputusan. Evaluasi program berpusat kepada manusia (people centered) dan yang menjadi koresponden adalah orang-orang yang menjalankan program dan pengelola.[29]
Evaluasi adalah keterampilan utama supervisi Madrasah. Apapun kondisinya Supervisor terlibat empat kegiatan, yaitu: 1) programs, melihat kembali desain program, konsep dan struktur, serta sasaran perencanaan, 2) processes, mengkaji teknik operasional dengan memprediksi keefektifan dan efisiensi organisasi, 3) products, meresum kinerja program madrasah dalam bentuk tujuan, harapan dan kontribusi, 4) personnel, analisis kontribusi tiap guru, karyawan dan kepala madrasah dalam implementasi perencanaan program madrasah.
Evaluasi program dalam pengajaran juga disebutkan, yaitu serangkaian proses tindakan dan pemberian estimasi terhadap pelaksanaan pengajaran untuk menentukan keefektifan dan kemajuan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah ditetapkan. Tujuan proses evaluasi, sebagaiaman berikut: 1. Specifying criteria (menetapkan kriteria), 2. Instrumentation (pembuatan instrumen), 3. Data gathering (pengumpulan data), 4. Analisis data, 5. Interpretation of finding (interpretasi temuan), 6. Valuing (penilaian), decision making(pengambilan keputusan) [30].
Lembaga pendidikan islam, secara konsep Evaluasi Program sebenarnya sudah terlaksana, walau terlihat ketika ada akreditasi lembaga, namun pada realita prosedur mengevaluasi tidak pernah dipelajari secara detail, dan pengertian tersebut bertujuan sebuah evaluasi program supervisi perlu dilakukan dengan cara mengetahui isi program supervisi, dan jika perlu mengetahui dengan details draft-draft pada Program Supervisi.
Ilustrasi perbedaan antara evaluasi dan penelitian.
Gambar, 03.


 





Ilustrasi tersebut menerangkan bahwa penelitian program supervisi menghasilkan identifikasi permasalahan, dan memberikan saran untuk program selanjutnya, namun evaluasi program supervisi, menghasilkan identifikasi permasalahan dan memberikan solusi dengan memberikan rekomendasi.
B.     Tujuan Evaluasi Program Supervisi
Unsur penting evaluasi adalah tujuan yang terbagi dua, yaitu tujuan umum biasa disebut dengan Goals, dan tujuan khusus, disebut dengan Objectivities, maka tujuan evaluasi program adalah mempunyai dua tujuan, pertama tujuan umum terdapat pada konsep supervisi secara umum terdapat pada program, dan tujuan khususnya adalah untuk konsep khusus, guna memberikan masukan untuk program Supervisi selanjutnya.
Patton menyatakan bahwa pengamatan dengan tujuan mengevaluasi program, menurut patton ada beberapa keuntungan[31]: (a) Pengamatan secara langsung, evaluator/ peneliti dapat mengetahui secara mendalam tentang konteks pada aktifitas program, (b) Peneliti dapat merasakan bahwa dirinya melakukan kegiatan tersebut, kegiatan ini dilakukan pendekatan berorientasi penemuan, dan (c) Pengamatan mempunyai kekuatan bahwa peneliti mempunyai peluang tentang kejadian secara rutin.
Evaluasi secara umum mempunyai beberapa tujuan sebagaimana telah dibahas dalam bukunya Wirawan; 1. Mengukur pengaruh program terhadap masyarakat, 2 Mengidentifikasi dan menilai kecocokan antara program dan pelaksanaannya, 3. Mengukur standar pelaksanaan program, 4. Mengidentifikasi program terlaksana, maupun yang tidak terlaksana, 5. Pengembangan staf program, 6. Memenuhi ketentuan undang-undang, 7. Akreditasi program, 8. Mengukur efektif dan efiesiennya program, 9. Mengambil keputusan mengenahi program, 10. Akuntabilitas, mengenahi pertanggungjawaban, 11. Memberikan feed back kepada pimpinan dan staf program, 12. Memperkuat posisi politik, jika evaluasi berhasil dengan nilai positif, kebijakan, program atau proyek pastinya akan mendapatkan dukungan dari para pengambil keputusan, 13. Mengembangkan teori ilmu evaluasi atau riset evaluasi, karena awal adanya evaluasi tidak menggunakan landasan teori, karena para pimpinan mempunyai pemikiran suatu kegiatan sangat memerlukan evaluasi[32].


 






Gambar 04
Tentang ilustrasi evaluasi program


Wirawan mengutip pendapat Possavac dan Carey, bahwa manfaat evaluasi adalah sebagai berikut:
1.        Evaluasi Program memperkuat rencana untuk layanan penyajiannya untuk memperbaiki manfaat (out came) program dan efisiensi program, dan evaluasi ini dapat dinamakan dengan evaluasi formatif.
2.        Evaluasi dapat didesain untuk pengambilan keputusan program selanjutnya, setelah evaluasi dilakukan apakah program harus dimulai, diteruskan atau dipilih dari dua alternative program yang ada. Dan hal ini disebut dengan evaluasi Sumatif.
C.     Fungsi Evaluasi
Suhertian berpendapat bahwa fungsi evaluasi terbagi menjadi 3, diantaranya: Fungsi Formatif (Merupakan Evaluasi yang memberikan balikan kepada guru, sehingga dapat memperbaiki hasil mengajarnya), Sumatif (bahwa evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir program pembelajaran, yang berbentuk catur wulan, atau semester) dan Diagnosis (sedangkan diagnosis ini evaluasi yang mengungkap kesulitan-kesulitan belajar di kelas, jika guru meghadapi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, maka ada usaha untuk remedial, maka perlu seorang konsultan, atau konsultan tersebut maka sebagai supervisor)[33].
D.    Manfaat Evaluasi Program Supervisi
Organisasi lembaga profit dan non provit lembaga pendidikan, khususnya madrasah perlu mengetahui manfaat evaluasi program. Arikunto mengatakan bahwa evaluasi program tidak ada perbedaan dengan supervisi, namun bedanya supervisi adalah bertujuan membina agar lebih maju dan berkembang maka perbedaannya yaitu pada awal supervisi perlu mengumpulkan data-data guna direduksi, kemudian dilakukan pembinaan, setelah melakukan pembinaan maka baru dilakukan evaluasi program supervisi, dengan bertumpukan pada supervisi kegiatan pembelajaran, supervisi kelas, dan supervisi madrasah[34].
Penulis mengilustrasikan kegiatan tersebut dengan:


 


Gambar 05.

Penjabaran dari gambar 05 ilustrasi terebut, bahwa evaluator mengidentifikasi permasalahan, mengumpulkan data, kemudian dilakukan pembinaan, membuat program supervisi, dilanjutkan dengan evaluasi program supervisi. Teknik tersebut juga tidak ada perbedaannya dengan langkah mensupervisi, maka ketika pelaksanaan evaluasi tersebut dilakukan akan timbul rekomendasi yang berisikan tentang kelebihan dan kekurangan, akhirnya pembimbingan lebih lanjut.

E.     Model Evaluasi[35]
Pemaparan model evaluasi ini sebagai pengenalan bahwa evaluasi terdiri dari beberapa macam, agar nantinya para praktisi pendidikan di madrasah dapat memilih model tersebut, karena model evaluasi ada yang memerlukan biaya banyak dan juga ada model sederhana, diantaranya sebagaimana berikut:
a.       Evaluasi Berbasis Tujuan
“Goal based evaluation model” Model evaluasi berdasarkan tujuan umum, “Objective Oriented Evaluation” evaluasi berpemahaman objek atau tujuan khusus dan “Objective Referenced evaluation Model” Model Evaluasi dengan kriteria tertentu, “Objective Oriented Approach”, serta Behavioral Objective Approach, kesemua itu adalah model evaluasi tertua yang dikembangkan oleh Ralph W Tyler, ia mendefinisikan evaluasi adalah sebuah “Process of determining to what extent the educational objective are actually being realized”. [36]  Model tersebut adalah model evaluasi berdasarakan tujuan umum maupun khusus dalam institusi tertentu. Adapaun langkah-langkah model evaluasi tersebut sebagaimana berikut:
1)      Mengidentifikasi tujuan
2)      Merumuskan tujuan menjadi indikator-indikator
3)      Mengembangkan metode dan instrumen untuk menjaring data
b.      Evaluasi Bebas Tujuan (Goal Free Evaluation Model).
Evaluasi ini dikembangkan oleh Scriven[37]. Evaluasi ini merupakan evaluasi mengenai pengaruh sesungguhnya, dan evaluator tidak mengetahui program, bertujuan pencapaian objektif. Evaluator tidak melihat program melainkan melihat pengaruh positif, negatif, atau sampingan positif [38].
c.       Evaluasi Formatif dan Sumatif
Model ini ditemukan oleh Scriven, praktisi pendidikan sudah pasti mengenal apa yang disebut dengan formatif dan Sumatif. Evaluasi Formatif lebih diarahkan pada evaluasi proses, ditujukan untuk memperbaiki atau menyempurnakan program. Evaluasi Sumatif lebih mengarah pada evaluasi hasil, menilai keefektifan dan efiseiensi program, menentukan program kelanjutan atau pemberhentian program[39].
Tabel Perbedaan Antara Evaluasi Formatif dan Sumatif

Evaluasi Formatif
Evaluasi Sumatif
1.      Tujuan
2.      Pengguna

3.      Pelaksana
4.      Pengumpulan Data

5.      Sampel
6.      Pertanyaan
Menyempurnakan Program Pimpinan Administrasi, dan Staf.
Evaluator Internal
Multi metode, informasi

Purposif atau probabilitas
Kegiatan mana yang berjalan?
Apa yang harus diperbaiki?
Bagaimana perbaikannya?
Menilai Kelayakan Program
Pengguna atau pemberi dana

Evaluator Ekternal
Intstrumen baku (Valid dan Reliabel)
Probabilitas.
Apa hasilnya?
Dalam Situasi bagaiaman?
Membutuhkan, biaya, sarana dan prasarana dan latihan apa?
Gambar 06.

d.      Evaluasi Responsif
Tahun 1975 mulai dikembangkan oleh Robert Stake[40], mempunyai tiga kriteria: (1) condong berorientasi pada aktifitas program dibanding tujuan program, (2) merespon kepada persyaratan kebutuhan informasi dari audiens, dan (3) perspektif nilai-nilai yang berbeda dari orang-orang dilayani dilaporkan dalam kesuksesan dan kegagalan program. Adapun langkah-langkahnya: pertama, Evaluator mengidentifikasi jenis dan jumlah setiap pemangku kepentingan (respondent); kedua, melakukan wawancara dengan pemangku kepentingan; ketiga, menyusun proposal evaluasi; keempat, melakukan evaluasi; kelima, membahas hasil evaluasi; keenam, Pemanfaatan hasil evaluasi[41].
e.       Evaluasi Context, Input, Process, dan Product (CIPP).
Dikembangkan oleh Stufflebeam tahun 1966[42], CIPP kepanjangan dari, Context, Input, Process dan Product. Komponen yang di evaluasi adalah: Evaluasi Konteks, Evaluasi Input/ Masukan, Evaluasi Proses, dan Evaluasi Produk.

f.       Evaluasi Adversari
Evaluasi ini menyerupai proses pengadilan atau proses yudisial, dimulai tahun 1965 Egon E Guba, menyatakan bahwa pendidikan bisa menggunakan selayaknya pengadilan, T R. Owen pertamakali melakukan evaluasi di bidang pendidikan, kemudian banyak tokoh pendidikan yang mengikuti hal tersebut, seperti Blain R. Worthen dan W Todd Roger pada tahun 1980, selain itu juga digunakan mengevaluasi program militer oleh Richard L. Miller & Jeanne Butler, 2008. Tujuan utama evaluasi Adversari adalah mengurangi bias dengan membentuk dua evaluator, intinya membentuk dua atau lebih evaluator yang independen. Adapun langkahnya sebagai berikut:1) Membentuk dua atau lebih evaluator yang independen. 2) Melakukan evaluasi 3) Merumuskan evaluasi, 4) Merumuskan hasil evaluasi, 5) Dengar pendapat, 6) Keputusan mengenahi program. Evaluasi tersebut membutuhkan waktu dan biaya mahal karena ada dua proses evaluasi[43].
g.      Evaluasi Ketimpangan
Malcolm M. Provus, sebagai tokoh jenis evaluasi ini, 1971 dengan bukunya “Discrepancy Evaluation”, evaluasi ini mirip dengan evaluasi Goal Based Evaluation Model, yang dikemukakan oleh Ralp Tyler, adapun langkahnya[44]:1) mengembangkan suatu desain dan standar-standar yang menspesifikasikan karakteristik-karakteristik implementasi ideal dari evalualand (objek evaluasi): kebijakan, program atau proyek. 2) merencanakan evaluasi menggunakan model diskrepansi, menentukan informasi yang diperlukan untuk membandingkan implementasi.
h.      Evaluasi Sistem Analisis
            Model ini di tokohi oleh Karl Ludwig von Bertalanfy 1951,[45] seorang Biolog Jerman, Ia menformulasikan teori sistemnya dari perspektif biologi. Karl Ludwig menciptakan lima jenis evaluasi yang diterapkan pada Program Keluarga Berencana, prosesnya sebagai berikut:
1)      Evaluasi masukan (Input Evaluastion). Masukan diperoleh dari lingkungan eksternal dari Program.
2)      Evaluasi Proses, fokus pada pelaksanaan program.
3)      Evaluasi Keluaran, (Output Evaluation), hasil dari pelaksanaan program
4)      Evaluasi Akibat, (Outcame Evaluation), yang dimaksudkan dalam evaluasi ini adalah sudah ada bentuk perubahan, atau tidak adanya perubahan pada sesuatu yang dievaluasi.
5)      Evaluasi Pengaruh (impact evaluation), evaluasi ini fokus pada penilaian terhadap pengaruh program, pengaruh program mengakibatkan dampak kecil atau besar.
Evaluasi ini juga ada kesamaan dengan evaluasi program yang bernama CIPP (Context, Input, Process dan Product).
i.        Teori Driven Evaluation Model
Teori Driven Evaluation Model memberikan beberapa langkah, 1) Mempelajari Program, 2) Menyusun Teori Program, 3) Menyusun desain evaluasi, 4) pelaksanaan evaluasi, 5) hasil evaluasi, 6) pemanfaatan evaluasi [46].
j.        Model Evaluasi Semu
Evaluasi ini sudah sering mendapatkan citra negative, yang berasal dari berbagai aspek proses evaluasi yang tidak memenuhi standar profesi, di sampaing hasilnya tidak objektif dan saintifik, juga banyak manipulasi. Evaluasi ini termotivasi oleh tujuan politik, dengan kata lain politik memegang kekuasaan dalam organisasi atau lembaga, akhirnya terjadi evaluasi yang menutupi kelemahan dan informasi negative demi kesuksesan organiasi[47]. Daniel L. Stufflebeam 1999a, berpendapat bahwa evaluasi ini terbagi dua hal: studi hubungan masyarakat (public relation studies), dan studi kontrol oleh politik (Politically controlled studies).  Adapun, public relation studies, dimulai dengan tujuan memakai data untuk meyakinkan para konstituen bahwa suatu program itu baik, efisien, efektif, dengan tujuan agar mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Data yang digunakan pada evaluasi ini adalah data tidak valid, dan bias, serta menggunakan table-tabel norma yang tidak tepat. Kemudian, Politically controlled studies, studi ini tidak akan diterima jika, a) menahan evaluasi sepenuhnya, dari akses audien, b) mencabut kesepakatan sebelumnya, untuk mengumumkan temuan-temuan evaluasi, c) bias dalam pesan evaluasi, dengan mengumumkan sebagian data, yang menguntungkan[48].

k.      Akreditasi
Akreditasi merupakan evaluasi proses menilai lembaga yang menyajikan jasa, sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Adapun proses akreditasi sebagaimana berikut[49]:
1)      Lembaga melakukan evaluasi/studi diri,
2)      Hasil Evaluasi diserahkan kepada tim Asesor,
3)      Tim Assesor meneliti evaluasi diri
4)      Temuan dan penilaian
5)      Keputusan lembaga Akreditasi. (terakreditasi penuh, bersyarat, tidak terakreditasi)
l.        Model Evaluasi Terfokus Utilisasi
Model ini ditemukan oleh Patton[50] (1997: 2002), model ini bukan evaluasi formal atau resep untuk melaksanakan evaluasi, melainkan suatu pendekatan, suatu orientasi dan satu set pilihan untuk merancang dan melaksankan suatu evaluasi. Patton mengatakan evaluasi ini tidak menyalahkan atau membenarkan dari beberapa metode, namun kolaborasi dari beberapa model, sesuai kebutuhan suatu yang dievaluasi[51].

F.      Evaluator Program Supervisi.
Secara umum seorang evaluator, sebaiknya mampu melaksanakan, cermat, objektif, sabar dan tekun, hati-hati serta bertanggungjawab. Selain itu evaluator ada beberapa hal diantaranya: (a) Internal Evaluator/Evaluator internal, adalah seseorang bagian dari pelaksana program, ditugaskan mengevaluasi program supervisi. Kelebihannya, sangat memahami program supervisi madrasah, tepat pada sasaran, dan tidak banyak mengeluarkan pendanaan. Kekurangannya, unsur  subjektivitas (ditakutkan tidak dapat melaksanakan penilaian secara objektif, dan tentunya hanya menampilkan kelebihannya, dan tidak menampilkan kekurangan program), tergesa-gesa dan kurang cermat, karena evaluator tersebut bertindak sebagai pelaksana program dan evaluator.[52] External Evaluator/ Evaluator dari luar, petugas evaluasi berasal dari instansi yang tidak terkait dengan kebijakan madrasah, tim ini sering disebut team independent. Kelebihan, objektif, mempertahankan kredibelitas, bekerja serius dan hati-hati. Kekurangan evaluator luar, orang baru dan tidak terlalu memahami program, bagi instansi perlu mengeluarkan dana cukup banyak.[53]
Penulis memberikan tambahan bahwa evaluator sebaiknya kolaborasi antara keduanya, agar mendapatkan hasil evaluasi dengan baik, sebab evaluator internal dapat mengurangi kekurangan evaluator eksternal yang pastinya tidak terlalu memahami program madrasah.
Pengalaman pribadi penulis ketika di lembaga pendidikan, evaluator yang betul-betul mendekati 100% objektif adalah ketika akreditasi, karena semua dinilai dengan begitu rinci, seorang assessor menanyakan satu demi satu mulai dari program, sampai administrasi, dan pelaksanaan, sambil dibimbing tentang kekurangan maka ditambahkan bahkan sampai diberikan buku panduan tentang pengaturan sirkulasi keuangan, namun tetap saja penilaian objektif, berbeda dengan pengawas dari instansi kementrian, yang tidak mengeluarkan sertifikat penentu mutu lembaga pendidikan, cenderung kurang sabar, dan kurang rinci, apalagi seorang kepala sekolah atau madrasah, lebih ke subjektifitas dalam penilaian tentang evaluasi diri madrasah.[54]

Objektivitas evaluator, sangat dipentingkan demi kemajuan program supervisi, objektifitas tersebut akan mendekati 100% jika dilengkapi dengan peralatan, diantaranya: Studi dokumen, interview serta triangulasi, observasi, dan reduksi data, serta ditambah kecermatan seorang evaluator.
Pihak evaluator adalah 1) para profesional pendidikan, 2) personil internal badan pemerintah, 3) ahli evaluasi dari perguruan tinggi, 4) guru dan administrator, 5) evaluator dari internal atau pun eksternal madrasah, dan 6) supervisor. Kriteria untuk mengevaluasi kualitas kegiatan evaluasi adalah 1) kualitas  holisme, evaluasi harus menghindari distorsi realita yang sedang dievaluasi, 2) kualitas bantuan yang mengarah pada perbaikan program, 3) kualitas penerimaan data lunak (software) dan keras (hardware), 4) kualitas kerentanan evaluasi, terdapat diskusi saling bertukar pendapat (hearing) dan diskusi antara evaluator dan yang dievaluasi, dan 5) kualitas visi ke depan, tujuan evaluasi perbaikan sehingga evaluator harus mampu membuka pandangan atas konteks yang berorientasi masa depan.[55]

G.    Unsur-unsur yang dievaluasi.
Sudjana mengutip Grotelueschen (1976), bahwa aspek yang dinilai terbagi 3 kategori: Program Emphases, Program Resources, Program Outcomes[56]. Tiga kategori tersebut, Pertama Titik berat program (Program Emphases), berkaitan dengan prioritas, yaitu proses atau tujuan program; kedua, Sumber-sumber Program (Program Resources), berkaitan dengan sumber daya alam dan lingkungan, kebijakan, peraturan, serta kerjasama antar lembaga penyelenggara program; ketiga, perubahan perilaku outcomes, dan dampak-dampak yang ditimbulkan program (Program Outcomes), seperti perubahan guru yang disupervisi.  
Sudjana mengutip pendapatnya Anderson (1978) bahwa, unsur yang dievaluasi terbagi atas 6 hal: diantaranya: Persiapan Program, tindak lanjut, modifikasi program, dukungan program dari masyarakat, hambatan program, landasan keilmuan dan teknologi. Sedangkan Mappa (1984), komponen yang dievaluasi meliputi Perencanaan, Pelaksanaan, Pembinaan, Efisiensi, efektifitas, dampak, dan keseluruhan program[57].
Pendapat para tokoh tentang komponen yang harus dievaluasi, pada intinya mulai dari perencanaan program, pembagian tugas, pelaksanaan program, pengawasan program dan evaluasi itu sendiri, karena dalam supervisi juga membutuhkan proses manajerial sebagaimana fungsi manajemen secara umum. Evaluator dapat mencari informasi yang tidak dapat dilakukan dengan metode lain.
Oliva, ahli Supervisi mengatakan bahwa evaluasi supervisi meliputi perencanaan, instrumen, organizing, dan pelaksanaan secara prosedural, menganalisis, mengintepretasikan, dilanjut pembuatan keputusan guna pengembangan program supervisi[58].

H.            Perencanaan dan Rancangan Konsep Evaluasi Program Supervisi
Perencanaan Evaluasi mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: 1) Analisis Kebutuhan, Kaufman dan Fenwick, dalam buku Needs Assesment, Conscept, and Aplication yang dikutip Arikunto, mengatakan bahwa sangat perlu menganalisis kebutuhan sistem yang berlaku. 2) Menyusun Proposal Evaluasi Program, Proposal adalah sebuah rencana kerja yang menggambarkan semua kegiatan pelaksanaan program. 3) Membuat alat instrumen evaluasi program. syarat instrument: a) valid, tepat untuk menilai objek, b) reliable, dapat dipercaya, bukan palsu, c) praktikebel, mudah digunakan, praktis, dan tidak rumit, d) ekonomis, tidak banyak mengeluarkan uang, waktu dan tenaga[59].   
Contoh Penyusunan instrumen kuantitatif:
NO
Pertanyaan
Opsi alternatif
1
Program Supervisi terlaksana dengan baik
Selalu
sering
jarang
kadang
Tidak pernah
2
Program Pembimbingan terhadap guru
Selalu
sering
jarang
kadang
Tidak pernah
Gambar 07.
Contoh penyusunan kualitatif
-          Untuk guru
Sebelum mengajarkan suatu pokok bahasan, apakah bapak/ ibu membuat RPP?
-          Untuk kepala sekolah
RPP pada Sekolah bapak dibuat dengan TIM atau individu guru?
Konsep evaluasi program dapat dilihat pada pembahasan di bawah[60]:
1.      Penelitian Pendahuluan
Penelitian pendahuluan adalah mempelajari tempat yang akan dievaluasi agar mengetahui, situasi kondisi, toleransi yang ada, pandangan dan jangkauan.
2.      Proposal Evaluasi Program Supervisi
Proposal evaluasi berisikan latar belakang, fokus masalah, metode dan pendekatan penelitian.
3.      Sumber-sumber Evaluasi
Sumber evaluasi berasal dari:
a.       Tenaga
(jumlah dan kualitas tenaga, pakar dalam bidang tertentu, salah satunya adalah pakar pendidikan, asisten evaluator). 
b.      Organisasi tim evaluator.
Tim tersebut terdapat tim leader, organisasi tim evaluator terdiri dari tim teknis, yang melaksanakan pelaksanaan evaluasi dan tim administrasi yang memberikan dukungan administrasi umum dan keuangan kepada tim teknis.
c.       Anggaran
Anggaran dalam perencanaan evaluasi sangat penting terhadap pelaksanaan evaluasi.

Arikunto menjelaskan secara detail tentang rancangan evaluasi program, minimal memuat; a) judul kegiatan, b) alasan dilaksanakan evaluasi, c) tujuan, d) pertanyaan evaluasi, e) metodologi yang digunakan, f) prosedur kerja, dan langkah-langkah kegiatan, biasa disebut deangan plan operational:[61]

Rencana Operasi Evaluasi Program
No
Jenis Kegiatan
Januari
Februari
Maret
April
Keterangan
1
Persiapan petugas

















2
Pengumpulan data

















3
Analisis data

















4
Pengadaan dan penyerahan laporan

















Gambar 08.
4.      Cart Pembantu Perencanaan dan Pelaksanaan Evaluasi
Pada bagian ini juga perlu dilaksanakan, minimal ada jadwal pelaksanaan evaluasi program.
5.      Tender dan Kontrak Kerja
Item tersebut termasuk pedoman dari pelaksanaan evaluasi yang terdiri dari: a) tujuan dari evaluation, b) identifikasi para pemangku kepentingan dan pertanyaan-pertanyaan yang harus diteliti, c) prosedur penjaringan data, d) prosedur untuk menganalisis kuantitatif dan kualitatif, dan informasi data, e) rencana manajemen, f) rencana pelaporan, g) metode control kualitas penjaringan, analisis data dan pelaporan, h) layanan-layanan personalia, informasi, dan material yang disediakan oleh klien, termasuk akses kepada data, i) kerangka waktu untuk bekerja, j) prosedur amandemen kontrak, dan penyelesaian kontrak, k) anggaran untuk kerja, termasuk jumlah yang harus dibayar, l) persyaratan telaah periodik dan modifikasi kesepakatan ketika perkembangan pekerjaan mengharuskan adanya perubahan.  
6.      Laporan Hasil Evaluasi
Laporan dalam evaluasi paling tidak memuat sebagai berikut: a) Jumlah halaman, b) bahasa, c) keterbacaan, d) bentuk laporan, e) referensi sumber.

I.               Langkah Pelaksanaan Evaluasi Program Supervisi
Langkah evaluasi program supervisi, mengambil dari buku Arikunto tentang evaluasi program, adapun langkahnya sebagai berikut[62]:
1.         Persiapan Evaluasi Program Supervisi
Persiapan ini meliputi pembuatan instrumen, menentukan model evaluasi serta menentukan metode evaluasi. Evaluasi program sebenarnya seperti penelitian lainnya, bedanya pada tujuannya. Wirawan menyatakan bahwa desain evaluasi adalah kerangka proses melaksanakan evaluasi dan rencana mendapatkan dan memanfaatkan data, sehingga diperoleh informasi yang presis, mencukupi atau hipotesis dapat diuji secara tepat dan tujuan evaluasi dapat dicapai. Seperti halnya pendapat Rowley, dikutip dari bukunya Wirawan, bahwa:
A Research design is the logic that links the data to be collected and the conclusion to be drawn to the initial question of the study, Internet ensures coherence. Another way of viewing a research design is to see Internet as action plan for getting from the questions to conclusion. Internet should ensure that there is a clear view of what is to be achieved….[63]

Mengevaluasi program supervisi dapat menggunakan jenis penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, atau juga dapat melakukan metode campuran antara keduanya. Tetapi kuantitatif sifatnya adalah sebagai pendukung evaluasi, seperti penyajian tabel, dan lain sebagainya. Oliva [64], memberikan contoh dalam pembuatan intrumen untuk evaluasi program supervisi secara self evaluation, maupun evaluasi program supervisi by teacher or by objectives.

2.         Pelaksanaan Evaluasi Program Supervisi
Pelaksanaan evaluasi program supervisi dilakukan dengan, a) Pengambilan data, b) Observasi, c) menggunakan Angket, d) Wawancara, e) Analisis Dokumen dan artifak.
Tabel Alat-alat Pengumpul Data
Alat
Waktu Pelaksanaan
Keuntungan
Kelemahan
Tes, Kuesioner, survey, atau daftar check list
Ketika membutuhkan data banyak, secara cepat dan mudah dari orang-orang tanpa merasa terancam
1.     Bisa dilakukan secara anonym[65].
2.     Pengolahannya murah
3.     Mudah membandingkan dan menganalisisnya
4.     Mampu menggali data dari banyak orang
5.     Bisa memperoleh data banyak
6.     Banyak contoh test, kuesioner, daftar yang sudah ada, tanpa harus repot membuatnya.
1.   Mendapat feedback, tidak sama
2.   Penyimpangan respons
3.   Impersonal[66]
4.   Survey perlu keahlian sampling
5.   Tidak akan mendapatkan cerita sepenuhnya.
Wawancara
Ketika menghendaki pemahaman, kesan, atau pengalaman, guru, madrasah, atau mempelajari lebih jauh jawaban tes/ kuesioner mereka.
1.  Mendapatkan informasi yang penuh dan mendalam
2.  Membangun hubungan dengan responden/ informan.
3.  Fleksibel
1.    Memakan banyak waktu
2.    Susah melakukan analisis
3.    Membutuhkan dana banyak
4.    Pewawancara bisa membiaskan tanggapan mereka.
Analisi Dokumen dan Artefak
Ketika menghendaki kesan, tentang berjalanannya program tanpa menggangu program atau orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan program.
1.  Mendapatkan data yang komprehenshif dan sifatnya historis
2.  Tidak menghentikan rutinitas orang-orang dalam melaksanakan aktifitas
3.  Data akan senantiasa siap digali
4.  Kadang bisa bias
1.    Kadang memakan banyak waktu
2.    Data mungkin tidak lengkap
3.    Harus jelas apa yang akan dicari
4.    Bukan alat yang fleksibel, untuk menggali data, hanya terbatas terdapat pada dokumen atau artefak itu.
Observasi
Untuk mendapatkan data yang akurat tentang bagaiamana, program sebenarnya berjalan, khususnya mengenahi proses.
Memandang pelaksanaan program sebagaimana adanya
Bisa beradaptasi dengan kejadian yang sedang berlangsung.
1.    Sulit menafsirkan perilaku yang tampak
2.    Sulit mengkategorisasikan observasi
3.    Bisa mempengaruhi perilaku para pelaksana program
4.    Bisa memakan biaya banyak

Kelompok Fokus
Menggali Suatu Topik secara mendalam melalui diskusi kelompok, misalnya reaksi atas pengalaman atau saran  pada program supervisi atau memahami keluhan
1.     Alat cepat dan terpercaya untuk mendapatkan kesan
2.     Alat paling efisien dalam mendapatkan data dalam waktu singkat
3.     Dapat menangkap inti program
1.       Bisa sulit menganalisis respon
2.       Perlu fasilitator yang bagus demi keamanan dan kedekatan
3.       Sulit menjadwal waktu.
Gambar 09. Sumber : Arikunto, 2009: 121
Berdasarkan tabel tersebut dapat dipahami bahwa setiap alat pengumpulan data pasti ada kelemahan dan kelebihan, maka dalam mengevaluasi program, sebaiknya digunakan semua, ketika menganalisis data akan lebih leluasa mencari keabsahan data.
J.               Hasil evaluasi dan tindak lanjut.
Qur’an telah menganjurkan untuk selalu mengingatkan, pastinya akan bermanfaat, QS Azzariyat, ayat 55.
http://ahadees.com/images/quran/arabic/51_55.gifArtinya: Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Q.S. Az-Zariyat: 55)
Hasil evaluasi dibuat laporan, selayaknya laporan penelitian, dengan dilengkapi rekomendasi, pada penelitian disebut dengan saran, intinya memperbaiki kekurangan dan mengembangkan kelebihan pada program supervisi.

V.            Penutup
Pembahasan evaluasi program supervisi telah berlalu, jika ada kekurangan mohon masukan, kelebihan merupakan anugerah.
A.    Simpulan
Program Supervisi adalah rencana teratur guna membimbing guru, diadakan secara kelembagaan madrasah maupun oleh para pengawas sekolah, namun lebih baik diadakan oleh Madrasah. Implementasi supervise dilaksanakan secara continue menjadikan lebih baiknya madrasah, karena secara manajemen sebuah program perlu adanya pengawasan.
Evaluasi Program Supervisi merupakan kegiatan penilaian tentang keefektifan, maupun keefisienan sebuah program supervisi dalam mengembangkan potensi serta memperbaiki kekurangan, membimbing guru maupun karyawan madrasah agar lebih kreatif dan bisa belajar mandiri guna mendidik peserta didik. Islam juga telah mengajarkan evaluasi sebagaiamana pada surat Al-Khasr ayat 18, bahwa merenungkan kegiatan yang telah dilaksanakan guna kehidupan akan datang.
Evaluasi dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi, dan memilih metode evaluasi kuantitatif maupun kualitatif, atau kombinasi antara keduanya. Evaluator terdiri dari internal dan eksternal, guna mengurangi subjektivitas. Masing-masing evaluator mempunyai kelebihan dan kekurangan.

B.     Saran
Evaluasi program hendaknya dilaksanakan oleh para praktisi pendidikan, dalam segala program khususnya pada program evaluasi agar mencapai tujuan dengan baik. Bagi para akademisia agar selalu meningkatkan daya kreativitas dalam memahami teori dan mengaplikasikan.





























Daftar Pustaka

Al-qur’an terjemah, disyahkan oleh Departemen Agama 1999, Toha Putra, Semarang.
Departemen Agama RI, 2003, Pedodoman pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama, Jakarta.
Peter H. Rossi, 1993 Evaluation A Systematic Approach, SAGE Publications, London.
Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed., 2006, Evaluasi Program Pendidikan Luar Madrasah, Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dan PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Georgeo R. Terry, ed. G.A. Ticoalu, 2003, Dasar-dasar Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta: cet VIII.
Nana Shaodih Sukmadinata,. Prof. Dr., Penelitian Evaluatif,  PT Remaja Rosdakarya, dan Program Pascasarjana Universias Pendidikan Indonesia, Bandung
Ngalim Purwanto, 2009, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya bandung.
Peter F. Oliva, 1984, Supervision for Today’s School, Longman, New York.
Piet A. Sahertian, Prof., Drs., 2000, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, Rineka Cipta, Jakarta.
Suharsimi Arikunto, 2004, Dasar-dasar Supervisi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas, Negeri Yogyakarta, PT. Asdi Mahasatya.
_____________Program Supervisi 2009, SMA Negeri 1 Suralaga Jln. Geres – Suralaga Kecamatan Suralaga Kab. Lombok Timur.
Syukur, Fatah, Dr., S.Ag., M.Ag, 2011Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah, Pustaka Rizki Putra, Semarang.
Suharsimi Arikunto, Prof. Dr., 2008, Evaluasi Program Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, edisi II.
Wirawan, Dr., MSL., Sp.A., MM., M.Si., 2012, Evaluasi, Teori Model, Standar Aplikasi, dan Profesi, Rajawali Press, PT. RajaGrafindo Persada: Depok, Cet. 2.
http//www.masimamgun.blogspot.com 08 Februari 2010, diakses pada tanggal 5 Oktober 2012. Judul artikel (Resume Pengembangan Program dan Evaluasi Supervisi Pengajaran Supervision And Program Evaluation).jam 12:00 WIB.


[1] Wirawan,. Dr., MSL., Sp.A., MM., M.Si., Evaluasi, Teori Model, Standar Aplikasi, dan Profesi (Rajawali Press, PT. RajaGrafindo Persada: Depok 2012) Cet. 2. Hal. 5-6
[2] Ibid, Wirawan, hal. 5
[3]  Georgeo R. Terry, ed. G.A. Ticoalu, Dasar-dasar Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta: 2003, cet VIII, hal 10-12.
[4] Ngalim Purwanto, M., Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung PT. Remaja Rosdakarya: 2009, hal. 76
[5] Tujuan yang tertulis pada program supervise, atau yang disebut Goals.
[6] Peter F. Oliva, Supervision for Today’s School, Longman, New York :1984, hal.7- 8.
[7] Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Supervisi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas, Negeri Yogyakarta, PT. Asdi Mahasatya, 2004, hal. 4-6
[8] Piet A. Sahertian., Prof., Drs., Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, Rineka Cipta, Jakarta: 2000, hal., hal. 34-52
[9] Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, Evaluasi Program Pendidikan Luar Madrasah,Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dan PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, hal. 4.
[10] Suharsimi Arikunto, Prof. Dr., Evaluasi Program Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta: 2008, edisi II, hal, 8-10
[11] Opcit, Wirawan, 2012, hal. 17
[12] Syukur, Fatah, Dr., S.Ag., M.Ag, Manajemen Pendidikan Berbasis Madrasah, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2011, hal. 100-101
[13] Op.cit.,Suharsimi Arikunto, Prof. Dr., , Jakarta: 2008, hal. 12
[14] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya bandung: 2009,  hal. 78-79
[15] 1) Improvement of the teaching, bentuknya class room visit, pembinaan secara individual maupun kelompok, demonstration teaching 2) Improvement of teacher in servise, pertemuan guru, membaca, dan mencermati buku, menilai dan menganalisis diri sendiri 3) The Selection and organization of subject matter, mencari penunjang dalam pengembangan diri, experiment 4) Testing and Measuring, mencoba dan menilai hasil usaha5) the rating of teacher, sebuah pengembangan, dengan rating card 6) Developing Curriculum, pengembangan kurikulum 7) Organizing For Instruction, mengkoordinasi termasuk membuat kelompok belajar murid, rencana kelas pengalokasiona waktu dan lain sebagainya 8) Providing Staff, merekrut, seleksi,  dan penempatan dan lain sebagainya 9) Providing Facilities, mendesain fasilitas, 10) Providing Materials, mendesain materi pelajaran guna mengimplementasikan kurikulum 11) Arranging For In Service Education, dengan bentuk merencanakan dan melaksanakan belajar pengembangan diri, dengan berbagai bentuk diantaranya, Workshop, konsultasi, field trips, dan pelatihan yang berbentuk formal 12) Orienting Staff Members, guna mengembangkan  organisasi pembinaan staff dengan membuat groups staff community, sebgai fasilitas, bisa berbentuk MGMP dan lain sebagainya. 13) Relating Special Pupil Service, mengembangkan keamanan dan relasi demi tujuan madrasah 14) Developing Public Relation, pengembangan Hubungan masyarakat guna sebagai promosi madrasah 15) Evaluating Instruction, membuat Perencanaan, Instrumen, Organizing, dan pelaksanaan secara procedural, menganalisis, mengintepretasikan, dilanjutkan pembuatan keputusan guna pengembangan program supervisi .Peter F. Oliva, Supervision for Today’s School, Longman, New York :1984, hal. 15-17
[16] Program Supervisi SMA Negeri 1 Suralaga Jln. Geres – Suralaga Kecamatan Suralaga Kab. Lombok Timur, oktober 2009.

[17] Hal tersebut senada dalam bukunya, Prof. Drs. Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam rangka pengembangan sumber daya manusia, Rineka Cipta, Jakarta: 2000, hal. 52-70
[18] Hal tersebut berkenaan dengan teori pengelolaan kelas, yaitu "keterampilan Pendidik menciptakan dan memelihara kondisi Kegiatan Belajar Mengajar, dengan optimal dan mengembalikannya", dan dapat dipelajari dan di baca pada: Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung : PT.Remaja Rosda Karya, 2002),hal.97.
[19] Departemen Agama RI, Peodoman pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama, Jakarta2003, hal. 82-93
[20] Ibid, Departemen Agama RI, Peodoman pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agamahal. 82-93
[21] Ibid, Departemen Agama RI, Pedoman Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Agama,  95-97
[22] Evaluasi yang bertujuan untuk intervensi tentang pelaksanaan program, mencocokkan antara rencana dan pelaksanaan.
[23] Evaluasi Manfaat ini, mengidentifikasi, menilai dan meneliti program, mengalami perkembangan atau Penurunan, dengan bertujuan perubahan yang lebih baik serta menemukan strategi baru.
[24] Evaluasi Impact ini berfungsi sama dengan evaluasi manfaat, karena terjadi ketimpangan antara Program dan pelaksanaan.
[25] Opcit,  Wirawan, 2012,  hal. 17
[26] Peter H. Rossi Evaluation A Systematic Approach, SAGE Publications, London: 1993, hal, 8.
[27] Baca Terjemahan Alqur’an Toha Putra, di syahkan oleh Departemen Agama tahun 1999, hal. 437.
[28] Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, Evaluasi Program Pendidikan Luar Madrasah,Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, dan PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006, hal.18-19.
[29] Ibid, Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, 2006, hal.30-31
[30] Ibid, http//www.masimamgun.blogspot.com 08 Februari 2010, diakses pada tanggal 5 Oktober 2012..
[31] Patton, M Quinn, Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009, hal. 120-121)
[32] Opcit, Wirawan, hal. 22-25
[33] Opcit, Piet A. Sahertian., Prof., Drs., 2000, hal. 143
[34] Opcit, Arikunto, 2008, hal. 21
[35] Opcit, Wirawan 79-124.
[36] Evaluasi adalah proses menentukan sampai seberapa tinggi tujuan pendidikan sesungguhnya dapat dicapai, missal kurikulum atau mata pelajaran mempunyai tujuan tertentu berupa kompetensi. Wirawan,  hal. 80-81.
[37] Lahir tanggal 28 Maret 1928 di bealieu, Hampshire Inggris, Ia mendapatkan gelar BA Bachelor Of Art dalam bidang matematika (1948) dan Master Of Art (1950) dari Universitas Of Melbourne, Australia, pada tahun 1956 ia mendapatkan gelar Ph.D., dari Oxford University, Inggris. Ia berkarier di amerika serikat, Inggris, dan Selandia baru. Ia menjadi Professor di Universitas California, Untuk lebih lengkap baca di Wirawan opcit. hal, 84-85.
[38] Lebih mudahnya adalah evaluator melihat efek setelah adanya program, seperti halnya setelah diadakan pelatihan pada guru maka tidakan apa yang terlihat pada guru tersebut.
[39] Nana Shaodih Sukmadinata,. Prof. Dr., Penelitian Evaluatif,  PT Remaja Rosdakarya, dan Program Pascasarjana Universias Pendidikan Indonesia, Bandung, hal. 119-123
[40] Robert E. Stake memperoleh gelar Bachelor In Arts dalam bidang matematika dari Univercity Of Nabraska (1950) dan master of arts on education psychology (1954), gelar Ph.D pada tahun 1958 dari bidang psikologi dari Priston Univercity, menjadi professor pada tahun 1988 di Univercity Of Psycology, dan Univercity Of Illinois. Ia menulis tujuh buku mengenahi evaluasi responsive dan studi kasus. Ia mengembangkan evaluasi Responsive ketia menjadi Director of Circe, Ibid, Wirawan, 2012, hal. 90. 
[41] Ibid, Wirawan, 2012, hal. 89-90.
[42] Daniel Stufflebeam, lahir di Waverly, lowa, 19 September 1936, gelar B.A., dalam bidang pendidikan music dari satet Univercity of lowa 1958, gelar M.Si, tahun dalam bidang konseling dan psikologi dari Purdue Univercity 1962, Ph.d., dalam bidang pengukuran dan statistic 1964, dan Post Doctoral dalam bidang Work Experimental Design and Statistics di Univercity Of Wiscounsin 1965., karya monumental dibidang Evaluasi CIPP. Ibid Wirawan 2012, hal. 93.
[43] Ibid, Wirawan, 2012, hal. 103-105.
[44] Ibid, Wirawan, 2012, hal. 106.
[45] Lahir Atgerzdorf, Vienna 19 September 1901, dari keluarga bangsawan, pendidikan dimulai dari guru pivat dirumahnya, kemudian melanjutkan ke Gymnasium/ Grammar school, tahun 1918 ke university of Innsbruck kemudian ke university of Vienna dan mendapat gelar Ph. D., dalam bidang filsafat sain, menjadi professor tahun 1934-1938 university of Vienna, menciptakan teori evaluasi sistem pada tahun 1930., Wirawan, 2012, hal. 107
[46] Tokoh evaluasi driven ini adalah, Peter Rossi, Huey Tysh Chen, dan banyak lagi tokoh yang memperlajari teori ini, baca Wirawan 2012,  hal. 121-122.
[47] Asumsi penulis, setiap lembaga yang dievaluasi secara internal atau secara politik pasti akan terjadi evaluasi semu, hal tersebut kemungkinan besar terjadi pada lembaga pendidikan diligkungan kita, untuk menilai madrasah agar terakreditasi A, namun tidak semudah yang kita bayangkan, karena assessor juga mempunyai standar evaluasi yang sangat ketat.
[48] Keterangan strategi pelaksanaan evaluasi semu, lebih lengkap dapat dibaca pada Wirawan, 2012, hal. 122-124.
[49] Ibid, Wirawan, 2012, hal.119-121
[50] Michael Quinn Patton,  menyelesaika program doctor bidang sosiologi di wiscounsin university, USA, kemudian menjadi dosen Universitas Minneota, disamping menjadi dosen ia juga memegang beberapa jabatan di universitas ini, 1975-1980 direktor university of Minnesota Social Research da 10 tahun Minnesota Extension Service. Buku yang monumental diantaranya adalah, Utilizasion Focused Evaluation, Qualitative Research and Evaluation dan 5 buku lainnya, Wirawan, 2012, hal. 118-119
[51] Lebih jelas dapat di baca pada buku Patton, Metode evaluasi Kualitatif, terjemah bahasa Indonesia cet. 2006. Dan Wirawan 2012, hal. 118-119.
[52] Opcit, Arikunto, 2008, hal. 23-24
[53] Opcit, Arikunto, 2008, hal. 24-25
[54] Pengalaman di lembaga SMK Hisbabuana Semarang, Akreditasi Desember tahun 2011
[55] http//www.masimamgun.blogspot.com 08 Februari 2010, diakses pada tanggal 5 Oktober 2012. Judul artikel (Resume Pengembangan Program dan Evaluasi Supervisi Pengajaran Supervision And Program Evaluation).
[56] Ibid, Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, 2006, hal. 86.
[57] Ibid, Djudju Sudjana, Prof., Dr., M.ed, 2006, hal. 86-87
[58] Peter F. Oliva, Supervision for Today’s School, Longman, New York :1984, hal. 17
[59] Adapun langkah-langkah membuat instrument, a) identifikasi komponen program dan indicator, b) membuat kisi-kisi, kaiannya dengan indicator program, sumber data, metode pengumpulan data dan instrument, c) menyusun butir-butir instrument, d) menyusun criteria penilaian, e) menyusun pedoman pengerjaan. Ibid, Arikunto, Jakarta, 2008, hal. 71-92
[60] Ibid, Wirawan hal. 125-146
[61] Opcit, Suharsimi Arikunto, Prof. Dr., 2008, edisi II, hal. 60-63
[62] Ibid. Arikunto, hal. 108-126
[63] Desain penelitan adalah logika yang menghubungkan data, selanjutnya dikumpulkan dan di simpulkan, serta dibuat pertanyaan-pertanyaan dari studi, desain penelitian memastikan terjadinya perpaduan. Cara lain memandang suatu desain penelitian adalah melihatnya sebagai rencana tindakan untuk memperoleh dari pertanyaan ke kesimpulan. Desain penelitian harus memastikan adanya pandangan jelas, sesuatu tujuan yang akan dicapai. Opcit, Wirawan, hal. 147
[64] Peter F. Oliva, Supervision for Today’s School, Longman, New York :1984, hal. 536-569
[65] Anonim adalah status yang abu-abu, tanpa nama, tak memiliki panggilan apapun. Kebanyakan mereka tidak menyebutkan nama karena alasan privasi dan sebagainya. Orang-orang yang terbiasa memakai nama "Anonim" akan mudah dicurigai, akan menjadi orang yang tidak dianggap begitu penting, kecuali kalau ia adalah seorang penulis yang memiliki tulisan menarik dan bermanfaat. Namun bagi pembaca dengan nama "Anonim", perlu dipertanyakan, apalagi bila 9 dari 10 pembaca adalah Anonim, bisa jadi mereka ini satu orang
[66] Dari kata bahasa inggris: Personal-Impersonal adalah dua kutub ekstrim dengan mana kita memberlakukan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan subyek dan obyek. Saya (Ego) sebagai subyek bisa memperlakukan obyek saya (Anda, Dia, Mereka, Kami, Kita, Saya Sendiri) sebagai sesuatu yang Impersonal atau sesuatu yang Personal.








1 komentar:

  1. Used ford edge titanium - Titanium Art - The Art Tool
    Used ford edge titanium. An authentic, handmade titanium septum jewelry in-house art studio babyliss pro nano titanium curling iron for best titanium flat iron a craftmanship style for the Used aftershokz trekz titanium ford edge titanium-iron for a craftmanship burnt titanium style.

    BalasHapus